Mantan Komandan NII: Kelompok Radikal Bisa Diobati Lewat Dialog

Negara Islam Indonesia Crisis Center menerima 5.000 laporan korban yang menganut paham radikal. Laporan diterima sejak 2011 lalu.

Mantan Komandan NII: Kelompok Radikal Bisa Diobati Lewat Dialog
capture video
Irjen Pol Setyo Wasisto Sebut Penyerang Mapolda Riau Termasuk Kelompok NII 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Dennis Destryawan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Negara Islam Indonesia Crisis Center menerima 5.000 laporan korban yang menganut paham radikal. Laporan diterima sejak 2011 lalu.

Mantan Komandan Negara Islam Indonesia Ken Setiawan sekaligus pendiri NII Crisis Center mencatat, 5.000 orang mendaftar sebagai korban paham radikal. Ken bersama para mantan aktivis NII yang telah sadar membentuk NII Crisis Center sebagai perwujudan dari tanggung jawab terhadak korban perekturan gerakan NII.

Baca: Sosok Royhan Akbar, Putra Bungsu Mahfud MD yang Jadi Sorotan Usai Raih Master di Columbia University

"Sampai sekarang total 5.000 orang yang mendaftar," ujar Ken saat dihubungi Tribunnews, Kamis (17/5/2018).

Ken bersama rekan-rekannya menyadarkan orang yang berpaham radikal dengan berdialog. Misal, mensosialisasikan kepada tokoh agama, tokoh masyarakat, masyarakat umum, mahasiswa, serta pelajar, tentang bahaya radikalisme. Lalu, membuat sanggahan atas ideologi yang diajarkan melalui gerakan radikal.

"Dengan dialog cukup efektif. Karena mereka ini, masuk kelompok radikal bukan ditabok tiba-tiba lupa diri, lupa ingatan, tidak ingat siapa-siapa," ucap Ken.

Ken mengatakan, radikalisme merupakan ideologi. Menurutnya, para penganut paham radikal tak akan berubah, jika tak ada perbandingan ideologi, "Yang menurut mereka lebih bagus dari yang dia yakini saat ini," kata Ken.

Ken berujar, dialog bisa digunakan untuk preventif. Namun, jika orang yang menganut radikal telah melakukan aksi teror memang harus ditindak, "Berbeda ketika orang sudah melakukan teror, nge-bom, ngerampok itu harus dengan tindakan," tuturnya.

Penulis: Dennis Destryawan
Editor: Malvyandie Haryadi
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help