KemenPPPA: Indonesia Darurat Soal Perkawinan Anak

Di wilayah ASEAN, Indonesia sendiri menempati peringkat kedua setelah Kamboja soal perkawinan anak.

KemenPPPA: Indonesia Darurat Soal Perkawinan Anak
Ilham Rian Pratama/Tribunnews.com
Asisten Deputi Pemenuhan Hak Anak atas Pengasuhan Keluarga dan Lingkungan, Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak KemenPPPA, Rohika Kurniadi Sari 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ilham Rian Pratama

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) bekerja sama dengan UNICEF, Indonesia berada di peringkat ketujuh dunia soal perkawinan anak.

Di wilayah ASEAN, Indonesia sendiri menempati peringkat kedua setelah Kamboja soal perkawinan anak.

Asisten Deputi Pemenuhan Hak Anak atas Pengasuhan Keluarga dan Lingkungan, Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak KemenPPPA, Rohika Kurniadi Sari menyatakan Indonesia sudah berada dalam kondisi darurat atas persoalan ini.

Menurutnya, selain persoalan mengenai perkawinan anak dibawah umur, ada beberapa hal yang juga patut menjadi sorotan.

"Angka kematian bayi, angka cerai, angka kematian ibu, ini kan tidak bisa dipotret sendiri. Bukan hanya saja angka perkawinan anak, tapi angka lain. Ini bahaya darurat," katanya di kantor KemenPPPA, Jakarta Pusat, Jumat (25/5/2018).

Selain itu, KemenPPPA juga mendorong ulama-ulama untuk dapat melihat bahaya dari perkawinan anak dibawah umur ini.

"Yang tadinya perkawinan itu halal, tapi kalo bahayanya lebih banyak, itu boleh diharamkan. Karna bahayanya tuh nanti," ujar Rohika.

Oleh karena itu, KemenPPPA sedang menunggu pengesahan peraturan pemerintah pengganti undang-undang (perppu) oleh presiden Jokowi terkait pencegahan perkawinan anak.

"Presiden waktu menemui para aktivis perempuan pada waktu di Bogor kan menyampaikan, akan segera mengesahkan perppu itu. Kita tunggu saja," pungkasnya.

Sementara, data Badan Pusat Statistik (BPS) hingga tahun 2015 menunjukkan perkawinan anak usia 10-15 tahun sebesar 11 persen. Sedangkan perkawinan anak usia 16-18 tahun sebesar 32 persen.

Dengan provinsi tertinggi yaitu Pro ada di Sulawesi Barat, diikuti Papua, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, kemudian Kalimantan Barat.

Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved