Hari Lahir Pancasila

Keliru, seolah-olah Pancasila dan Pendukungnya Anti Islam

Setiap sila dalam Pancasila terkandung nilai-nilai keagamaan, dalam hal ini Islam

Keliru, seolah-olah Pancasila dan Pendukungnya Anti Islam
ISTIMEWA
Acara buka puasa sekaligus peringatan hari Pancasila di kantor DPN Aliansi Masyarakat Sipil untuk Indonesia Hebat (ALMISBAT), di kawasan Tebet, Jakarta, Jumat (1/6/2018). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Pancasila merupakan sebuah rumusan yang merujuk pada norma-norma sosial yang hidup di masyarakat Indonesia sejak masa lampau.

Setiap sila dalam Pancasila terkandung nilai-nilai keagamaan, dalam hal ini Islam, sebagaimana tertuang dalam Alquran.

Oleh karena itu, mengatakan bahwa Pancasila bertentangan dengan Islam adalah tidak tepat.Akhir-akhir ini banyak muncul pandangan keliru, seolah-olah Pancasila dan pendukungnya adalah anti Islam.

“Ini jelas keliru dan berbahaya, karena Pancasila bukan rumusan yang berdiri sendiri dan tidak ada kaitannya dengan nilai-nilai dan ajaran yang hidup di tengah masyarakat Indonesia, khususnya ajaran agama,” kata Ketua DPP Gerakan Pemuda Ansor, Saiful Rahmat Dasuki, dalam tausiyah menjelang acara buka puasa sekaligus peringatan hari Pancasila di kantor DPN Aliansi Masyarakat Sipil untuk Indonesia Hebat (ALMISBAT), di kawasan Tebet, Jakarta, Jumat (1/6/2018).

Menurut Saiful, berdasarkan kajian tekstual dan sejarah maka tidak perlu ada keraguan untuk mengatakan Islam adalah Pancasila, Pancasila adalah Islam

“Silakan kaji teks tiap sila Pancasila. Tentang keesaan Tuhan, misalnya, itu adalah tiang utama ajaran agama Islam. Islam juga mengajarkan tentang pentingnya kemanusiaan dan kemuliaan ahlak, persatuan atau ukhwuwah, musyawarah, dan keadilan sosial. Itulah yang merupakan inti pada masing-masing sila, dan semuanya dikatakan dalam banyak ayat Al Quran,” katanya.

Menurut Saiful, keterkaitan itulah yang turut mewarnai proses kelahiran Pancasila di sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada 1945 silam.

Sebagaimana diketahui, pada sidang-sidang di kedua badan tersebut terjadi perdebatan panjang antara para pendiri bangsa (founding fathers) yang berasal atau mewakili berbagai kelompok sosial dan politik waktu itu.

Saiful mengatakan, peranan sejumlah wakil umat Islam khususnya KH Wahid Hasyim sangat besar, sehingga semua peserta sidang saat itu akhirnya sepakat menetapkan Pancasila sebagai dasar negara.

“Keputusan itu mengandung pesan penting, bahwa Pancasila mengayomi seluruh masyarakat Indonesia yang realitasnya beragam dalam berbagai hal. Karenanya, adalah kewajiban kita selanjutnya menjaga keputusan para pendiri bangsa tersebut,” tutur Saiful.

Kebhinnekaan Indonesia, lanjut Saiful, harus diterima dan dimaknai sebagai rahmat dari Tuhan.

“Dengan segala kemahakuasaannya, Allah SWT bisa menjadikan seluruh penghuni dunia ini seragam dalam semua hal, termasuk di Indonesia," ujarnya.

"Faktanya, kita semua terdiri dari berjenis-jenis suku bangsa, agama, kepercayaan, dan lain-lain. Itulah rahmat yang harus kita terima, sebagaimana kita menerima Pancasila sebagai dasar negara,” pungkas Saiful.

Selain memperingati hari Pancasila acara ini juga diisi dengan pemberian penghargaan kepada Andi Muhammad (13), topskor dalam kompetisi resmi Asosiasi Akademi Futsal Indonesia (AFFI) U-13 tahun 2018.

Andi berhasil mencetak 56 gol. Dalam kompetisi tersebut, PRAFA FA yang merupakan tim Futsal binaan AMISBAT berhasil menyabet peringkat pertama kompetisi AFFI regional 2 DKI Jakarta.

Editor: Rachmat Hidayat
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help