KEIN: Perekonomian Indonesia Masih Stabil

Indikator yang mendukung upaya untuk meredam gejolak di pasar valuta tersebut masih sangat memadai.

KEIN: Perekonomian Indonesia Masih Stabil

Tekanan terhadap rupiah yang masih terus berlangsung hingga saat ini diyakini tidak akan berdampak buruk terhadap perekonomian nasional secara keseluruhan. Alasannya, indikator yang mendukung upaya untuk meredam gejolak di pasar valuta tersebut masih sangat memadai.

Salah satu yang dirujuk oleh Wakil Ketua Komite dan Industri Nasional (KEIN) Arif Budimanta adalah cadangan devisa yang dikelola Bank Indonesia masih besar.

Hal itu, katanya, dapat dilihat dari rasio cadangan devisa terhadap utang luar negeri yang per Mei 2018 sekitar 35 persen, jauh di bawah saat krisis 1998 yang hanya 12 persen.

“Jadi kita gak perlu khawatir dengan kondisi saat ini. Kemampuan pemerintah dan BI untuk menjinakkan dinamika nilai tukar rupiah khususnya terhadap dolar masih sangat kuat,” ujarnya usai acara diskusi tentang perkembangan ekonomi Indonesia di Jakarta, Sabtu (14/7).

Arif menekankan bahwa dinamika di pasar keuangan saat ini hanya bersifat sementara. “Ini biasa,” katanya sambil menambahkan, “Pola pergerakan di pasar keuangan kan memang tanpa jeda (lag)."

Artinya, jika ada perkembangan di eksternal, maka peluang mengimbas ke dalam negeri bisa sangat cepat.

Dalam pandangan Arif, kondisi tersebut dapat diantisipasi dengan kemampuan cadangan devisa Indonesia yang dalam kondisi baik saat ini. Cadangan devisa tersebut penting untuk menjaga stabilitas kurs, terutama dalam jangka pendek. Seperti yang terjadi sekarang, pergerakan kurs rupiah jauh lebih stabil dibandingkan dengan dinamika yang terjadi pada 1998 maupun menjelang tahun krisis tersebut.

Dalam kondisi seperti itu, bisa dipastikan bahwa perkembangan kurs yang terjadi dapat dikelola dengan baik. Sehingga, masyarakat terutama para pelaku pasar dapat merasa aman dan nyaman, tidak dirundung kepanikan walaupun saat kurs rupiah mengalami tekanan. “Dinamika yang terjadi di pasar modal juga masih bisa dikatakan stabil,” katanya.

Arif Budimanta menjelaskan, melihat perkembangan di pasar keuangan ini sangat penting. Jika melihat krisis 1998 dan 2008, katanya, salah satu transmisi penting terjadinya krisis dimulai dari kondisi pasar keuangan yang bergejolak secara negatif.

Dia juga meyakini kondisi utang Indonesia tidak akan mengganggu kondisi perekonomian secara umum. Saat ini, mengutip data Bank Indonesia,

Arif menyampaikan bahwa rasio utang luar negeri terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) per Maret 2018 masih terjaga di 33,4 persen. Sementara pada 1998 mencapai 130,8 persen. Dengan demikian, kondisinya masih sangat aman.

Kendati demikian, Arif tetap mengingatkan agar pemerintah maupun Bank Indonesia tetap mewaspadai dinamika perkembangan ekonomi eksternal agar dapat direspons dengan baik dan tepat.

“Kita kan tahu, saat ini pemerintah Amerika cenderung menaikkan suku bunga dan ada dinamika perang dagang yang berpotensi mempengaruhi perekonomian kita. Saya yakin semuanya sudah diantisipasi dengan baik oleh pemerintah,” ungkapnya.(*)

Editor: Content Writer
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved