Menlu Ceritakan Perjuangan Indonesia saat Terpilih Menjadi Anggota Dewan Keamanan PBB

Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi mengakhiri dua hari kunjungannya di Jawa Barat dengan mendatangi Museum Konferensi Asia Afrika

Menlu Ceritakan Perjuangan Indonesia saat Terpilih Menjadi Anggota Dewan Keamanan PBB
Rizal Bomantama
Menlu Retno LP Marsudi saat menjadi pembicara dalam diskusi dengan ratusan pemuda di Museum Konferensi Asia Afrika, Braga, Bandung, Jawa Barat, Sabtu (14/7/2018). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Rizal Bomantama

TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi mengakhiri dua hari kunjungannya di Jawa Barat dengan mendatangi Museum Konferensi Asia Afrika di kawasan Braga, Bandung, Jawa Barat pada Sabtu (14/7/2018) pagi.

Di sana ia bertemu sekaligus berbincang dengan ratusan pemuda yang tergabung dalam komunitas Sahabat Museum Konferensi Asia Afrika (SMKAA).

Wanita lulusan Universitas Gadjah Mada itu menceritakan pengalaman dan perjuangannya membawa Indonesia menjadi anggota dewan keamanan (DK) tidak tetap PBB (Persatuan Bangsa-bangsa) beberapa waktu lalu.

“Diplomat kita kampanye selama dua tahun, untuk bisa menarik simpati negara lain untuk memilih Indonesia dalam voting pemilihan anggota tidak tetap DK PBB, kita menjual rekam jejak kita yang bagus, termasuk pengalaman kita menyelenggarakan Konferensi Asia Afrika pada 1955 lalu,” ujar Menlu Retno.

Retno mengatakan pengalaman Indonesia menyelenggarakan konferensi di gedung tersebut 63 tahun lalu membuat Indonesia diperhitungkan.

“Lalu disandingkan dengan status Indonesia lainnya yaitu negara dengan populasi terbesar keempat di dunia, negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia namun menjadi negara dengan toleransi tinggi serta menghormati hak asasi manusia,” tegasnya.

Menlu mengatakan kepada ratusan pemuda bahwa aspek-aspek itu lah yang membuat Indonesia memperoleh 144 suara negara anggota PBB dari 190.

Ia pun mengingatkan kepada para pemuda bahwa nilai-nilai yang disebutkannya tadi harus terus dijaga karena tugas Indonesia sebagai DK tidak tetap PBB adalah tidak mudah.

“Termasuk ingat peristiwa KAA karena peristiwa itu membuat Indonesia terus diingat dan semoga Indonesia mulai bisa memainkan perannya sebagai anggota DK tidak tetap PBB mulai 1 Januari 2019 mendatang,” pungkasnya.

Penulis: Rizal Bomantama
Editor: Sanusi
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help