Minggu, 31 Agustus 2025

Pilpres 2019

Langkah Gerindra Patahkan Spekulasi Prabowo Jadi "King Maker"

Keyakinan itu, ujar Pangi, semakin melemahkan argumen sebagian kalangan yang menginginkan Prabowo menjadi King Maker dengan mengajukan nama lain

TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kanan) berjabat tangan dengan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (kiri) sebelum melakukan pertemuan tertutup di kediaman Prabowo, Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, Senin (30/7/2018). Partai Demokrat resmi berkoalisi dengan Partai Gerindra dalam Pilpres 2019. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago menilai dua poros kekuatan politik jelang kontestasi Pemilu Presiden (Pilpres) 2019 semakin menunjukkan geliat persaing menggebu-gebu.

Namun, dua poros koalisi belum menunjukkan titik terang, meskipun ada beberapa kecenderungan yang menunjukkan hiruk-pikuk ini akan segera mencapai titik klimaks.

Baca: Belum Ada Titik Terang Siapa Cawapres Prabowo

Poros pendukung Jokowi dengan sokongan enam parpol di parlemen sepertinya masih menunggu momentum dan mengulur waktu untuk mengumumkan siapa yang akan menjadi cawapres pendamping Jokowi.

"Partai koalisi di kubu ini menyerahkan sepenuhnya nama cawapres untuk di tentukan oleh Jokowi. Sembari terus memberikan pancingan untuk dapat membaca sinyal, mengintip, main mata dan sambil menunggu bola pantulan koalisi," katanya sesuai keterangannya, Jumat (3/8/2018).

Di sisi lain, Pangi yang juga sebagai Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting ini menilai koalisi Prabowo dengan Gerindra sebagai partai pengusung utama memastikan dan semakin percaya diri mengajukan mantan Komandan Kopassus itu sebagai calon presiden.

Keyakinan itu, ujar Pangi, semakin melemahkan argumen sebagian kalangan yang menginginkan Prabowo menjadi King Maker dengan mengajukan nama lain.

"Keyakinan kuat partai Gerindra ini setidaknya didasarkan atas beberapa arugumentasi yang cukup kuat. Pertama; rekomendasi partai gerindra adalah jawaban untuk menepis keraguan publik terkait posisi Prabowo Subianto sebagai calon presiden potensial penantang Jokowi," ujarnya.

Kedua, menurut dia terlihat dari dukungan PKS sebagai mitra koalisi utama yang sudah membagun komunikasi dan kerjasama politik yang sudah lama dengan Gerindra meskipun parpol besutan Sohibul Iman itu masih tetap mengajukan syarat untuk memilih salah-satu nama dari sembilan nama yang diajukan sebagai cawapres pendamping Prabowo.

Ketiga, dukungan Partai Demokrat akhirnya berlabuh ke Prabowo dan bergabung ke koalisi Gerindra-PKS dan PAN sebagai imbas "tertutupnya pintu" komunikasi SBY dengan barisan partai pengusung utama Jokowi terutama Megawati sebagai elite sentral PDIP.

Pangi mengatakan, harus dicermati pernyataan SBY yang mengakui hubungan dengan Megawati Soekarnoputri masih ada jarak dan berusaha untuk dipulihkan 10 tahun terakhir, terkesan Megawati menjadi batu ganjalan sulitnya Demokrat berlabuh ke poros koalisi pengusung Jokowi.

"SBY dan Prabowo memimpin grand coalition atau koalisi gemuk" tersebut dalam rangka semakin mengokohkan dan mematangkan Prabowo sebagai calon presiden yang tergabung dalam koalisi Demokrat-Gerindra-PKS dan PAN real sebagai sang penantang Jokowi," ujarnya.

Keempat menurut dia rekomendasi Ijtima’ Ulama GNPF yang semakin mengokohkan posisi Prabowo Subianto sebagai capres favorit pilihan umat yang menempatkannya pada posisi yang diharapkan dapat mengemban amanah dan menyuarakan serta memperjuangkan kepentingan umat.

Kelima menurut Pangi efek ekor jas atau "cotail effect" salah-satu pertimbangan paling rasional yang harus diambil oleh partai Gerindra atau partai manapun untuk menaikkan pamor partai bahkan dalam level tertentu.

Bagian dari upaya meyelamatkan partai dari keterpurukan sebagai konsekuensi logis diselenggarakannya pemilihan legislatif dan eksekutif yang serentak.

Baca: Cak Imin Dianggap Tokoh yang Paling Mewakili Suara Islam di Kubu Jokowi

Situasi itu menurut dia setidaknya bisa dibaca dari hasil beberapa lembaga survei yang menunjukkan kecenderungan peningkatan perolehan suara dari partai yang diasosiasikan sebagai partai pendukung utama calon presiden seperti PDI-P dan Gerindra.

Kedua partai ini mendapat limpahan berkah dengan peningkatan perolehan suara partai yang cukup signifikan.

Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan