Komnas HAM Temukan Adanya Kekerasan Seksual Dalam Kasus Rumoh Geudong di Aceh

"Kami sudah periksa 65 saksi. Kami perkirakan jumlah korbannya itu lebih dari jumlah saksi itu,”

Komnas HAM Temukan Adanya Kekerasan Seksual Dalam Kasus Rumoh Geudong di Aceh
Tribunnews.com/ Fahdi Fahlevi
Ketua Tim Penyelidik Komnas HAM, Mohammad Choirul Anam di Kantor Imparsial, Tebet, Jakarta Selatan, Minggu (9/8/2018). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Fahdi Fahlevi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Komnas HAM menemukan terjadi beberapa kasus kekerasan seksual berdasarkan hasil penyelidikan kasus dugaan pelanggaran HAM berat, Rumoh Geudong di Aceh.

Ketua Tim Penyelidik Komnas HAM, Mohammad Choirul Anam, mengungkapkan ada lima kasus kekerasan yang ditemukan sebagai dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Baca: Seknas Jokowi Bantul Dideklarasikan di Pantai Goa Cemara, Siapkan Strategi Menangkan Jokowi

Lima unsur yakni perkosaan atau bentuk kekerasan seksual lain yang setara, penyiksaan, pembunuhan, penghilangan orang secara paksa dan perampasan kemerdekaan atau kebebasan fisik secara sewenang-wenang

"Kejahatan kekerasan seksual ini yang menurut korban dan orang Aceh pada umumnya ini yang paling parah dan ini salah satu temuan utama. Kekerasan seksual bukan hanya perempuan tapi juga laki-laki,” ujar Choirul di Kantor Imparsial, Tebet, Jakarta Selatan, Minggu (9/8/2018).

Baca: Tidak Ada Sanksi Bagi Kader Demokrat yang Nyatakan Dukungan ke Jokowi, Ini Tanggapan Gerindra

Choirul mengungkapkan bahwa kelima unsur kekerasan itu merupakan hasil dari pelaksanaan kebijakan secara sistematis pemerintahan saat itu yakni menetapkan Aceh sebagai Daerah Operasi Militer (DOM) sejak 1989-1998.

"Kami sudah periksa 65 saksi. Kami perkirakan jumlah korbannya itu lebih dari jumlah saksi itu,” ungkap Choirul.

Penyelidikan ini, menurut Choirul menggunakan skema pro justicia setelah diputuskan dalam paripurna Komnas HAM pada 20 Agustus 2018.

Delapan hari kemudian pihaknya mengirimkan hasil penyelidikan ke Kejaksaan Agung yang berperan sebagai penyidik.

Penulis: Fahdi Fahlevi
Editor: Adi Suhendi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved