Survey BKKBN: Angka Kelahiran Total di Indonesia Alami Penurunan

Pertambahan penduduk kian terjadi, namun angka fertilitas total di Indonesia turun dari 2,6 anak per wanita di 2012 menjadi 2,4 di 2017.

Survey BKKBN: Angka Kelahiran Total di Indonesia Alami Penurunan
Tribunnews.com/Ria Anatasia
Plt. Kepala BKKBN Sigit Priohutomo dalam launching hasil laporan SDKI 2017 di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Selasa (9/10/2018). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ria Anatasia

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pertambahan penduduk kian terjadi, namun angka fertilitas total di Indonesia turun dari 2,6 anak per wanita di 2012 menjadi 2,4 di 2017.

Angka tersebut berdasarkan survey demografi dan kesehatan Indonesia (SDKI) yang diselenggarakan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) bersama BPS dan Kementerian Kesehatan RI.

"Hal yang paling menggembirakan dari Hasil SDKI 2017 adalah TFR turun menjadi 2,4 anak per wanita," ungkap Plt. Kepala BKKBN Sigit Priohutomo dalam pemaparan hasil laporan SDKI 2017 di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Selasa (9/10/2018).

Sigit mengakui angka tersebut belum mencapai sasaran Renstra (Rencana Strategis) di angka 2,3 persen.

Kendati demikian, ia optimis angka kelahiran total akan menurun hingga 2019.

"Ini survey di 2017 harus dicapai di 2019. Ada angka misalnya TRF belum tercapai, tapi trennya menunjukan perkembangan," jelas dia.

"Kita memang lakukan (survey) ini di tengah program, sehingga kita bisa lihat apakah ada kemajuan. Saya tidak bisa bayangin kalau ini barudilakukan di 2019, kita tidak tahudata ini apakah membaik atau menurun," sambungnya.

Penurunan jumlah kelahiran di Indonesia dapat dikaitkan dengan meningkatkan pemakaian kontrasepsi melalui semua cara, seperti pil KB, IUD, kondom dan lainnya.

Pemakaian kontrasepsi meningkat sebanyak 2 persen menjadi 64 persen di SDKI 2017.

Begitu pula terkait presentase wanita yang mengetahui tentang cara atau metode mencegah HIV/AIDS melalu penggunaan kondom dan pembatasan aktivitas seksual dari 42,9 persen di 2019 menjadi 68,4 persen di 2017.

"Remaja berusia 20-24 cukup banyak mengetahui alat/cara program KB. Ini bisa jadi hal positif, tapi perlu dicurigai juga apa mereka gunakan kontrasepsi untuk seks pra nikah. Hasil survey ini kita jadikan bahan untuk program ke arah yang lebih baik," ujar Sigit.

Penulis: Ria anatasia
Editor: Hendra Gunawan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help