Amnesty Internasional Sebut Pemerintah Tak Punya Program Khusus Tangani Korban Konflik

Ia khawatir peristiwa penembakan seperti di Paniai bakal kembali terjadi jika kasus Paniai tidak dituntaskan dan pelakunya dibawa ke pengadilan umum

Amnesty Internasional Sebut Pemerintah Tak Punya Program Khusus Tangani Korban Konflik
capture video
Obet Gobai selaku ayah salah satu korban kasus penembakan di Kabupaten Paniai pada 2014 silam, mendatangi kantor Amnesty International, Jakarta Pusat, Jumat (7/12/2018). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com Theresia Felisiani

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Para pegiat isu-isu Papua mengingatkan Presiden Joko Widodo atau Jokowi penuhi janjinya soal penuntasan Penembakan di Paniai Papua pada Desember 2014.

"Paniai ini salah satu kasus yang dijanjikan oleh Presiden Jokowi segera dituntaskan. Dia menyatakan ini berdekatan saat baru dilantik Oktober 2014. Paniai kata kunci penting untuk menilai kesungguhan pemerintah menyelesaikan kasus di Papua," papar peneliti senior untuk Isu Papua, Adriana Elisabeth di ‎kantor Amnesty Internasional Indonesia, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (7/12/2018).

Baca: Keluarga Korban Tagih Janji Jokowi Usut Tuntas Kasus Penembakan Paniai

Adriana yang juga mantan Kepala Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ini menjelaskan LIPI sudah pernah memetakan masalah di Papua.

Menurutnya, guna menuntaskan masalah itu, tidak bisa hanya pemerintah yang turun tangan. Seluruh pihak harus duduk bersama untuk Papua yang lebih baik.

"‎Persoalan mendasari di Papua itu, dampak dari kekerasan berulang pelanggaran HAM. Para korbannya yang mengalami trauma tidak diberikan pendampingan. Saya perhatikan belum ada program khusus untuk tangani korban konflik. Kalau bencana di Lombok, Donggala, pemerintah cepat beri pendampingan psikologis," tuturnya.

‎Andriana menambahkan, ia khawatir peristiwa penembakan seperti di Paniai bakal kembali terjadi jika kasus Paniai tidak dituntaskan dan pelakunya dibawa ke pengadilan umum.

Diketahui, empat tahun sudah kasus penganiayaan dan penembakan di Paniai tidak kunjung ada penyelesaian. Peristiwa itu bermula dari penganiayaan pada Minggu (7/12/2014) pukul 18.40 WIT di Pondok Natal KM 4, Jalan Poros Madi-Enarotali, Distrik Paniai Timur‎, Kabupaten Paniai.

Baca: Peneliti Amnesty Internasional Sebut Negara Harus Minta Maaf Jika Tak Sanggup Tuntaskan Kasus Paniai

Berlanjut pada Senin (8/12/2014‎) di Lapangan Karel Gobai, kota Enarotali, terjadi penembakan oleh aparat keamanan yang mengakibatkan hilangnya nyawa empat pemuda Papua yang seluruhnya pelajar yaitu Apius Gobay (16), Alpius Youw (18), Simon Degei (17), dan Yulianus Yeimo (17).

Beberapa minggu setelah insiden tersebut, pada peringatan Natal di Papua, Presiden Jokowi berkomitmen mengusut para pelaku sesegera mungkin. Nyatanya hingga kini kasus Paniai masih jalan di tempat.

Penulis: Theresia Felisiani
Editor: Imanuel Nicolas Manafe
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved