Amnesty Internasional Soroti Ketidakseriusan Pemerintah Tuntaskan Penembakan Paniai

Sementara itu, empat tahun berlalu sejak Desember 2014 hingga detik ini, penembakan di Paniai tidak kunjung ada penuntasan.

Amnesty Internasional Soroti Ketidakseriusan Pemerintah Tuntaskan Penembakan Paniai
Tribunnews.com/ Reza Deni
Obet Gobay orang tua Apius Gobay (16) korban penembakan di Paniai, Papua,di kantor Amnesty Internasional, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (7/12/2018)?. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com Theresia Felisiani

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - ‎Upaya pemerintah yang bergerak cepat dalam menangani pembantaian pekerja PT Istaka Karya oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) berbanding terbalik dengan peristiwa penembakan di Paniai, Papua.

Pasca beredarnya informasi pembantaian hingga kini, Jumat (7/12/2018)‎ tim gabungan TNI dan Polri berhasil mengevaluasi 16 jenazah yang menjadi korban kekejian KKB.

Sementara itu, empat tahun berlalu sejak Desember 2014 hingga detik ini, penembakan di Paniai tidak kunjung ada penuntasan.

Baca: Kesedihan Keluarga Korban Penembakan Paniai Saat Bercerita di Kantor Amnesty Internasional

Kini keluarga korban penembakan Paniai sedang berada di Jakarta untuk menuntut keadilan.

"Peristiwa di distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua itu termasuk perampasan hak asasi yang pelakunya non aktor negara, pelaku tetap harus dihukum. ‎Sementara Paniai yang termasuk pelanggaran HAM, pelakunya tidak diungkap. Ini memang tidak mau diungkap atau tidak mampu ungkap," kataPeneliti Amnesty Internasional Indonesia untuk isu Papua, Papang Hidayat di kantor Amnesty Internasional, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (7/12/2018).

Papang juga mempertanyakan keseriusan pemerintah dalam menangani kasus Paniai.

Mengapa di kasus yang baru-baru terjadi ini, pemerintan sangat serius memburu pelaku. Sedangkan untuk kasus Paniai tidak ada progres.

"Ini harus dibuka terang, tangkap pelaku, proses penegakan hukum. Pemerintah serius sekali buru kelompok bersenjata kenapa keseriusan tidak dituntaskan juga ke Paniai," ujarnya.

Baca: Kemnaker Bakal Tingkatkan Jumlah Tenaga Kerja Bersertifikasi

‎Lebih lanjut, aktivis HAM Papua, Yones Douw merasa tidak ada alasan bagi pemerintah untuk tidak mengusut tuntas kasus ini.

Apalagi jika alasannya karena kekurangan barang bukti.

"Kekurangan barang bukti tidak bisa jadi alasan. Saksinya ada, beberapa proyektil sudah diserahkan ke unsur penegak hukum. Kami orang Papua akan selalu tagih janji Presiden Jokowi untuk menuntaskan ini," kata Yones Douw.

Diketahui empat tahun sudah kasus penganiayaan dan penembakan di Paniai tidak kunjung ada penyelesaian. Peristiwa itu bermula dari penganiayaan pada Minggu (7/12/2014) pukul 18.40 WIT di Pondok Natal KM 4, Jalan Poros Madi-Enarotali, Distrik Paniai Timur‎, Kabupaten Paniai.

Berlanjut pada Senin (8/12/2014‎) di Lapangan Karel Gobai, kota Enarotali, terjadi penembakan oleh aparat keamanan yang mengakibatkan hilangnya nyawa empat pemuda Papua yang seluruhnya pelajar yaitu Apius Gobay (16), Alpius Youw (18), Simon Degei (17), dan Yulianus Yeimo (17).

Beberapa minggu setelah insiden tersebut, pada peringatan Natal di Papua, Presiden Jokowi berkomitmen mengusut para pelaku sesegera mungkin. Nyatanya hingga kini kasus Paniai masih jalan di tempat.

Penulis: Theresia Felisiani
Editor: Adi Suhendi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved