Y-Publica: Elektabilitas PSI Terdongkrak Berkat Menolak Poligami

Hasil survei Y-Publica mencatat, elektabilitas Partai Solidaritas Indonesia (PSI) terdongkrak, karena sikap politiknya menolak poligami

Y-Publica: Elektabilitas PSI Terdongkrak Berkat Menolak Poligami
Fransiskus Adhiyuda
Direktur Y-Publica, Rudi Hartono, saat merilis hasil survei Y-Publica di Lentera Menteng, Jakarta Pusat, Senin (14/1/2019). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Hasil survei Y-Publica mencatat, elektabilitas Partai Solidaritas Indonesia (PSI) terdongkrak, karena sikap politiknya menolak poligami. Terbukti, sejak bicara tolak poligami di pertengahan Desember 2018 lalu, elektabilitas PSI justru naik 0,3 persen.

Berdasarkan hasil survei Y-Publica yang dirilis pada Senin (14/1/2019), elektabilitas PSI bertengger di angka 2,9. Sementara pada survei November-Desember 2018, PSI mendapat 2,6 persen.

“Elektabilitas PSI naik karena sukses memainkan strategi diferensiasi yang ideologis,” kata Direktur Y-Publica, Rudi Hartono, saat merilis hasil survei Y-Publica di Lentera Menteng, Jakarta Pusat.

Rudi menjelaskan, dengan mengusung isu politik yang ideologis, seperti penolakan Perda berbasis agama dan poligami, PSI sedang memainkan strategi diferensiasi atau pembeda yang ideologis.

Menurutnya, strategi itu membawa keuntungan ganda bagi PSI.

Baca: Mayat Tanpa Busana Mengambang di Kali Porong Sidoarjo Ternyata Seorang Perempuan

Pertama, karena isu yang dilontarkan itu kontroversial, PSI mendapat perhatian dan sorotan publik.

“Yang kedua, segmen tertentu dari pemilih, terutama yang rasional dan ideologis, akan terseret oleh kampanye PSI,” jelasnya.

Ia mencontohkan, dalam isu penolakan terhadap poligami, PSI mendapat simpati dari banyak perempuan, kelompok liberal, kelas menengah terdidik, sebagian kaum moderat, dan anak-anak muda berpikiran progresif.

“Dalam survei kita ditemukan, mayoritas perempuan menentang poligami. Ini basis potensial untuk dukungan elektoral bagi PSI,” paparnya.

Strategi agak mirip juga dipraktikkan oleh Partai Berkarya.

Partai besutan Tommy Soeharto itu gencar dan terang-terangan mendefinisikan diri sebagai pewaris Orde Baru.

“Dengan jualan Orde Baru, Partai Berkarya berharap bisa menyeret orang-orang yang masih menyimpan rindu akan Orde Baru. Apalagi Golkar dan partai sempalannya meninggalkan narasi ini,” ujar Rudi.

Dalam survei Y-Publica, elektabilitas Partai Berkarya naik tipis dari 0,8 persen di survei November-Desember 2018 menjadi 0,9 persen di survei terbaru.

Diketahui, Y-Publica menggelar survei pada 26 Desember 2018 hingga 8 Januari 2019 dengan melibatkan 1200 responden. Survei dilakukan melalui pemilihan responden secara acak atau multistage random sampling.

Tingkat kesalahan alias margin of error dalam survei ini sebesar +/- 2,98 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

Penulis: Fransiskus Adhiyuda Prasetia
Editor: Sanusi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved