Mantan Panglima NII Ungkap Puluhan Atlet Berprestasi Baiat Kelompok Radikal

Ken mengaku mempunyai kawan yang lulusan STPDN yang sangat nasionalis, setiap saat menyakikan lagu kebangsaan dan hormat bendera.

Mantan Panglima NII Ungkap Puluhan Atlet Berprestasi Baiat Kelompok Radikal
Kolase Tribun Video
Ken Setiawan, mantan Komandan NII dan pendiri NII Crisis Center 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA-Mantan Panglima Negara Islam Indonesia (NII) Ken Setiawan mengungkap, beberapa atlet berprestasi yang kini dibaiat berpaham radikal.

"Awalnya kaget dan tidak percaya kalau ada korban yang lapor, tapi ketika di dampingi orang tua dan meyakinkan dengan data beberapa korban lain akhirnya kami percaya," ungkap Ken yang kini mendirikan NII Crisis Center, Senin (18/2/2019).

"Kami pikir para atlet sudah disibukkan dengan banyaknya aktifitas dan latihan, bahkan peraturan juga sangat ketat, tapi ternyata itu bukan jaminan bebas dari perekrutan kelompok radikal," Ken dalam rilisnya yang diterima tribunnews.com.

Ken Setiawan kemudian mengumpamakan negara ini sedang memberi makan anak macan. Ketika macan itu besar dan lapar maka akan mencabik cabik sang pemberi makan.Seorang atlet yang dibiayai negara dan diharapkan akan menjadi kebanggaan, sambung Ken, malah justru secara ideologi anti terhadap pemerintah dengan menganggap pemerintah taqhut dan kafir.

Ken bercerita, dirinya dulu adalah seorang atlet Pencak Silat. Direkrut saat akan mengikuti pertandingan tingkat nasional di Jakarta, namun karena ingin silaturahmi dengan kawan kawan akhirnya dia terekrut kelompok radikal NII, dan bergabung kurang selama tiga tahun.

Ken Tidak menyalahkan jika anak muda bergabung dalam kelompok radikal. Menurutnya, anak muda memang semangatnya sedang luar biasa. Apalagi bila di hadapkan pada sebuah perubahan, mereka sedang mencari jatidiri. Yang jadi permasalahan, lanjutnyaadalah dia ketemu dengan orang yang salah sehingga dia belajar jihad pun jihad yang salah.

"Ketika kita tidak punya argumentasi yang kuat dalam berdebat maka di pastikan kita akan kalah dan mengikuti argumentasi yang menang, itu konsukwensinya," Ken menegaskan.

Dijelaskan Ken, Perekrutan kelompok radikal yang di kenal dengan cuci otak atau brainswash dll tidaklah demikian. Mereka bukan di hipnotis trus tiba tiba berubah. Akan tetapi polanya adalah hipnosis, melalui tatapan mata, pengkondisian bahwa semua mempunyai pendapat yang sama.

Pemutusan komunikasi supaya jangan disampaikan kepada siapapun selain kelompoknya saja. Dan yang terakhir adalah indoktrinisasi atau pengulangan materi secara terur menerus yang sugestinya adalah hukum Allah yaitu Alquran.

"Kalau kita melawan quran berarti kita orang kafir. Bila seorang sudah terjebak dalam pola hipnosis tersebut dipastikan akan susah keluar dari jaringan tersebut sebab ancaman keluar dari jaringan adalah diculik ataupun di bunuh," Ken menjelaskan.

Baca: Suhardi Alius Berikan Pembekalan Mengenai Fenomena Radikalisme dan Terorisme di Indonesia

Halaman
12
Editor: Rachmat Hidayat
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved