Buya Syafii Sarankan Masyarakat Tidak Perlu Berlebihan Sikapi Perbedaan Politik

Realitas ini menjadi jadi ujian dan tantangan tersendiri dalam konteks kerukunan, kebhinekaan, kebangsaan, dan keagamaan.

Buya Syafii Sarankan Masyarakat Tidak Perlu Berlebihan Sikapi Perbedaan Politik
Istimewa
Forum Dialog dan Literasi Media Sosial bertajuk 'Bijak di Dunia Maya, Rukun di Dunia Nyata,' di Hotel Cavinton Yogyakarta, Sabtu (16/3/2019). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Reynas A.

TRIBUNNEWS.COM - Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) RI dan Suara Muhammadiyah menggelar forum dialog dan literasi media sosial di Hotel Cavinton Yogyakarta, Sabtu (16/03/2019) sore. 

Prof Dr Ahmad Syafii Maarif atau Buya Syafii selaku Pemimpin Umum Suara Muhammadiyah menilai sekarang masyarakat kerap perang di dunia maya dan terbelah di dunia nyata.

Realitas ini menjadi jadi ujian dan tantangan tersendiri dalam konteks kerukunan, kebhinekaan, kebangsaan, dan keagamaan.

“Sekarang ujian soal toleransi, kerukunan beragama, kebhinekaan. Perbedaan itu perlu disikapi dengan lapang dada, bukan dengan emosional," ujar Prof Dr Ahmad Syafii Maarif atau Buya Syafii (Pemimpin Umum Suara Muhammadiyah).

Baca: Prakiraan Cuaca BMKG 33 Kota Besok, Minggu 17 Maret 2019: Waspada, Hujan Petir di Wilayah Surabaya

Syafii Maarif mengatakan memasuki tahun politik masyarakat harusnya bersikap normal tidak perlu berlebihan.

“Tidak perlu berpuisi, apalagi sampai minta tolong malaikat yang dihubung-hubungkan untuk kepentingan politik segala," ujarnya.

Syafii Maarif ingin menegaskan, melihat perbedaan, baik pandangan dan sikap politik haruslah dihadapi dengan lapang dada.

“Kalau sikap dan pandangan politik sama, kehidupan jadi membosankan," sambung dia.

Karenanya perlu perbedaan dalam bentuk apapun asal jangan sampai menghancurkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Forum Dialog dan Literasi Media Sosial memilih tema 'Bijak di Dunia Maya, Rukun di Dunia Nyata'.

Kominfo RI membangun kesadaran publik dengan instrumen teknologi yang benar. Munculnya persoalan toleransi, radikalisme harus disikapi secara mawas diri.

Penulis: Reynas Abdila
Editor: Malvyandie Haryadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved