Rumah Milenial Gelar Diskusi 'Infrastruktur Indonesia-Sentris'

Dalam pemaparannya Hokkop menyampaikan bahwa Infrastruktur tidak bisa berhenti alias harus terus dilanjutkan.

Rumah Milenial Gelar Diskusi 'Infrastruktur Indonesia-Sentris'
Ist/Tribunnews.com
Diskusi bertajuk "Pembangunan Infrastruktur Indonesia-Sentris, Dievaluasi atau Dilanjutkan ?" yang digelar Rumah Milenial di Gedung Juang 45, Jakarta,Jumat (15/3/2019). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Dalam 5 tahun terakhir, Pemerintah Jokowi-JK membangun infrastruktur strategis di sejumlah daerah.

Konsep Indonesia Sentris berimbas pada adanya pemerataan pembangunan.

Kendati demikian, ada sejumlah aspek yang perlu dibenahi, agar pembangunan infrastruktur bisa lebih baik lagi. Hal tersebut merupakan salah satu poin dari diskusi yang digelar Rumah Milenial di Gedung Juang 45, Jakarta, Jumat (15/3/2019).

Hadir sebagai narasumber bertajuk "Pembangunan Infrastruktur Indonesia-Sentris, Dievaluasi atau Dilanjutkan?" itu adalah Hokkop Situngkir Direktur BD dan Teknik PT Waskita Karya Infrastruktur, Taufan Hunneman, Sekjen Fornas Bhinneka Tunggal Ika dan Berly Martawardaya Direktur Program INDEF.

Baca: Pembentukan Holding BUMN Infrastruktur Tunggu Terbitnya Perpres

Dalam pemaparannya Hokkop menyampaikan bahwa Infrastruktur tidak bisa berhenti alias harus terus dilanjutkan.

Menurutnya, dunia Infrastruktur tidak bisa dikaitkan dengan politik.

"Jadi harus ada kesinambungan. Terus tak boleh putus, karea ini demi kesejahteraan rakyat," jelas dia.

Hal senada diutarakan Taufan.

Taufan mengatakan bahwa infrastruktur merupakan bagian penting setiap negara, tak terkecuali Indonesia. Nampun, ada sejumlah hal yang perlu dibenahi.

"Ada beberapa seperti cost yang tinggi di distribusi, pertumbuhan ekonomi yang kecil dan tumbuhnya ekonomi digital," tambah dia.

Dia menambahkan, perlu ada kebijakan tentang pembangunan infrastruktur keberagaman.

"Saya menyampaikan kepada Presiden RI bahwa perlu ada pembangunan Infrastruktur Keberagaman karena ada beberapa perda-perda yang tidak sesuai dengan Pancasila sehingga tidak ramah dengan investasi," ungkap dia.

Sementara Berly Martawardaya yang mengatakan bahwa nilai ekonomi Indonesia masih kecil. Sisi pertumbuhan ekonomi pun cenderung lambat.

"Biaya logistik di Indonesia itu 25% dari total harga suatu barang, jadi mahal sekali," jelas dia.

Ia juga mengatakan bahwa Infrastruktur yang dibangun akan dirasakan beberapa tahun mendatang. "Infrastruktur yang dibangun, tidak saat itu juga dirasakan, itu akan berdampak di beberapa tahun mendatang," pungkasnya.

Editor: Hasanudin Aco
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved