Pilpres 2019

Demokrasi Terancam Jika Teror dan Intimidasi Dibiarkan

"Tujuannya ada dua. Pertama agar pemilih takut ke TPS. Kedua, untuk mengarahkan agar memilih calon tertentu," jelasnya.

Demokrasi Terancam Jika Teror dan Intimidasi Dibiarkan
ISTIMEWA
Diskusi bertajuk Selamatkan Demokrasi, Melawan Segala Bentuk Intimidasi Politik, Senin (25/3/2019) kemarin. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA-Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS), Soleman B. Ponto mengungkap, ancaman teror serta intimidasi tidak hanya tersebar di dunia maya. Berbagai peristiwa teror dan intimidasi terjadi juga di dunia nyata.

"Ada di media sosial instagram, di group whatsup. Itu banyak sekali," ujar Soleman dalam diskusi bertajuk Selamatkan Demokrasi, Melawan Segala Bentuk Intimidasi Politik, Senin (25/3/2019) kemarin.

Menurut Soleman, pesan yang disampaikan pembuat teror untuk menakut-nakuti masyarakat agar tidak datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS).

Baca: Ngopi di Kota Malang, Jokowi Hebohkan Warga Sekitar

"Pesan yang saya baca agar rakyat takut datang ke TPS karena diisukan kalau datang ke TPS akan terjadi keributan. Harapan penteror itu memang begitu, membuat orang takut. Tapi kita jangan takut. Intimidasi dan teror membuat kualitas Pemilu tidak baik," katanya.

Direktur Indonesia Public Institute (IPI) Karyono Wibowo mengamini pernyataan Soleman. Ada beberapa model teror dan intimidasi terkait Pemilu Serentak. Mulai dari yang halus hingga yang paling keras atau ekstrim.

"Paling halus misalnya dalam bentuk spanduk, isi kalimatnya mengancam minoritas atau masyarakat akar rumput. Dengan narasi berbau intimidasi. Ini bertaburan di daerah," katanya. 

Menurut Karyono, intimidasi paling ekstrim pun bisa terjadi dalam Pilpres, misalnya menciptakan peristiwa yang destruktif seperti melakukan perusakan dan pembakaran hingga ledakan. Menurut dia, hal semacam ini bisa menjadi bagian dari strategi pemenangan pemilu untuk menciptakan ketakutan dan kecemasan.

"Tujuannya ada dua. Pertama agar pemilih takut ke TPS. Kedua, untuk mengarahkan agar memilih calon tertentu," jelasnya.

Baca: Bendera Partainya Hadir di Kampanye Prabowo, Golkar: Itu Palsu

Sayangnya, lanjut Karyono, teror politik yang menjadi ancaman demokrasi dan peradaban ini. "Pelaku teror dan intimidasi politik ini sulit dijerat dengan UU pemilu. Penyelesaiannya pun sering tidak jelas," kata Karyono.

Pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI) Arbi Sanit mengatakan, teror politik hanya bisa dilawan dengan pendidikan politik yang konsisten. Mulai yang paling kecil keluarga dari orang tua kepada anak, di sekolah dari guru kepada murid, di kampus dari dosen kepada mahasiswa, serta dalam organisasi dari ketua kepada anggota.

Demokrasi Indonesia menurutnya dalam posisi dilematis dan terbelakang. Di satu sisi memang harus diakui bahwa kodrat demokrasi adalah strategi dengan manipulasi dalam menyajikan pilihan kepada masyarakat.

"Manipulasi itu misalnya, menunjukkan yang satu baik sekali dan yang satunya sangat tidak baik. Dalam politik elektoral itu wajar," jelas Arbi.

Baca: Mahfud MD Bahas Karma: Jika Kau Berbuat Aniaya, Kau Tak kan Mati Sebelum Alami Derita yang Setara

Penulis: Fransiskus Adhiyuda Prasetia
Editor: Rachmat Hidayat
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved