Imbas Kejadian Aksi 22 Mei, Dompet Dhuafa Audiensi dengan Mabes Polri

"Kami datang untuk audiensi dalam rangka memitigasi, mencegah kejadian yang tidak diinginkan terhadap tim kemanusiaan," ujar Imam

Imbas Kejadian Aksi 22 Mei, Dompet Dhuafa Audiensi dengan Mabes Polri
Tribunnews/JEPRIMA
Sejumlah massa aksi 22 Mei masih melakukan perlawanan kepada aparat kepolisian di jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Rabu (22/5/2019). Tribunnews/Jeprima 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Vincentius Jyestha

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pascakejadian pemukulan dan pengrusakan kendaraan operasional oleh kepolisian di Aksi 22 Mei, Dompet Dhuafa mengadakan audiensi dengan Mabes Polri.

Direktur Utama Dompet Dhuafa, Imam Rulyawan, mengatakan tujuan audiensi ini agar kejadian yang menyebabkan terlukanya petugas medis tidak terulang.

Baca: Ketemu Jokowi, Dua Korban Penjarahan Kerusuhan 21-22 Mei Dapat Suntikan Modal

"Kami datang untuk audiensi dalam rangka memitigasi, mencegah kejadian yang tidak diinginkan terhadap tim kemanusiaan," ujar Imam, di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (24/5/2019).

Ia menyayangkan kejadian ini, namun dirinya juga memahami bahwa saat kejadian kondisi fisik dan psikologis kedua belah pihak tengah kelelahan.

Apalagi, baik petugas medis dan aparat kepolisian sama-sama lelah menghadapi aksi massa. Belum lagi, kondisi dimana suasana sekitar yang gelap. "Yang penting hal tersebut tidak terulang," kata dia.

Dalam audiensi ini, kata dia, Polri dan Dompet Dhuafa sepakat untuk memberikan perlindungan bagi tim kemanusiaan dan tim medis dalam situasi atau apabila ada aksi selanjutnya.

"Kesepakatan-kesepakatan memitigasi perlindungan bagi tim kemanusiaan dan tim medis. Tim media dan tim kemanusiaan mendapatkan ruang gerak yang bebas, yang sebaik-baiknya untuk berperan sesuai fungsinya, tentunya sesuai kesepakatan dan aturan pihak berwenang," jelas Imam.

Di sisi lain, Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan demi mencegah kejadian berulang, pihaknya meminta untuk setiap pihak mengenakan tanda pengenal tersendiri. Seperti tim kemanusiaan, tim medis, hingga tim media.

Nantinya, pihaknya akan mengkonfirmasikan tanda pengenal yang dimaksud kepada aparat kepolisian yang ada di lapangan.

"Jika terjadi kerusuhan, harus ada identitas yang jelas, semisal penggunaan pita merah-putih. Teman-teman media yang meliput perlu menggunakan identitas media, misalnya seragam pers," kata Dedi.

Sebelumnya diberitakan, kejadian pemukulan petugas Dompet Dhuafa dan perusakan kendaraan oleh aparat kepolisian terjadi di sekitar kawasan Sarinah.

Baca: Aksi 22 Mei Berbuah Nestapa Bisnis Tanah Abang

Seorang aparat tiba-tiba mengambil kunci mobil dan menyuruh tim medis lembaga kemanusiaan itu untuk turun dari kendaraan.

Akibat dari insiden tersebut, tiga anggota tim medis mengalami luka dan dilarikan ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD). Sementara, dua kendaraan operasional Dompet Dhuafa mengalami kerusakan.

Penulis: Vincentius Jyestha Candraditya
Editor: Imanuel Nicolas Manafe
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved