Calon Presiden 2014

Pasukan Nasi Bungkus Percaya Jokowi Adalah Juru Selamat

Panasbung yang rata-rata merupakan pembela capres PDIP Jokowi, punya kepercayaan bahwa Jokowi adalah sang juru selamat

Pasukan Nasi Bungkus Percaya Jokowi Adalah Juru Selamat
TRIBUN/DANY PERMANA
Ketua Bapilu PDIP Puan Maharani (kanan) bersama calon presiden dari PDIP Joko Widodo (kiri) usai mendapat kunjungan mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad yang didampingi Duta Besar Malaysia untuk Indonesia Dato Seri Zahrain Mohamed Hashim di kediaman Megawati Soekarnoputri, Teuku Umar, Jakarta, Senin (14/4/2014). Menurut Mahathir kunjungannya tersebut hanya silaturhami antar sahabat lama yang dulu sama-sama pernah memimpin negaranya masing-masing. (TRIBUNNEWS/DANY PERMANA) 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Istilah pasukan nasi bungkus (panasbung) semakin ramai di media sosial. Panasbung yang rata-rata merupakan pembela capres PDIP Jokowi, punya kepercayaan bahwa Jokowi adalah sang juru selamat Republik Indonesia.

Hal tersebut diutarakan pakar komunikasi politik dari Universitas Indonesia (UI), Agung Suprio, dimana fenomena yang terjadi di media sosial belakangan ini adalah munculnya kepercayaan bahwa memilih Jokowi sebagai Presiden adalah harga mati untuk menyelamatkan Indonesia.

Agung memaparkan ada dua pengikat solidaritas di panasbung. Pertama adalah ikatan ideologi. Dimana dalam ikatan ini panasbung yang membela Jokowi dikarenakan keyakinan,nilai, dan obsesinya.

"Diantara mereka bahkan ada yang sampai percaya bahwa Jokowi adalah sang juru selamat bagi republik ini. Mereka adalah para relawan dan tersebar. Rata-rata akun mereka bukan anonim," ujar Agung kepada Tribunnews.com, Kamis (24/4/2014).

Ikatan kedua, lanjut Agung, adalah panasbung dengan ikatan ekonomi. Disini, panasbung yang membela Jokowi dikarenakan materi. "Disindir pasukan nasi bungkus karena upah mereka dianggap setara nasi bungkus. Akun mereka rata-rata anonim. Di sisi lain, banyak penjual jasa buzzer dan troopers di twitter. Ada simbiosi mutualisme disini," paparnya.

Agung menambahkan, walaupun terdapat dua ikatan tersebut, sulit membedakan mana panasbung yang terbentuk karena ikatan ideologi atau ekonomi. Kecuali dari jenis akunnya saja.

"Demokrasi akan semakin berkualitas jika tipe rasional menjadi mayoritas. Bukan tipe ngawur yang semakin banyak karena tipe ngawur hakikatnya anti kritik," imbuhnya.

Penulis: Danang Setiaji Prabowo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved