Rabu, 6 Mei 2026

Hewan Kecil, Dampak Besar: Perjalanan Tikus dalam Riset Kesehatan

Mengapa tikus jadi 'pahlawan' riset medis? Dari kanker hingga vaksin, perannya besar, tapi bisakah suatu hari tergantikan?

Tayang:
Editor: Sri Juliati
ISTIMEWA/GANESHA OPERATION
TIKUS PERCOBAAN - Dalam dunia penelitian medis, tikus telah lama menjadi salah satu model hewan paling utama yang digunakan untuk menguji teori, memahami penyakit, hingga mengembangkan terapi baru. Mengapa tikus jadi 'pahlawan' riset medis? Dari kanker hingga vaksin, perannya besar, tapi bisakah suatu hari tergantikan? 

TRIBUNNEWS.COM - Dalam dunia penelitian medis, tikus telah lama menjadi salah satu model hewan paling utama yang digunakan untuk menguji teori, memahami penyakit, hingga mengembangkan terapi baru.

Salah satu contohnya adalah riset yang dilakukan oleh Mariano Barbacid terkait kanker pankreas yang sudah kita bahas beberapa waktu lalu. 

Pendekatan menggunakan kombinasi tiga jenis obat yang dirancang untuk bekerja secara simultan dalam menekan pertumbuhan kanker tersebut, menggunakan model hewan tikus.

Dari sini muncul pertanyaan mendasar, "mengapa tikus?" 

Bagaimana hewan kecil ini bisa menjadi model standar dalam penelitian medis di seluruh dunia? Pertanyaan inilah yang akan kita telusuri lebih jauh.

Sejarah Awal Tikus Masuk Dunia Laboratorium

Penggunaan hewan dalam eksperimen ilmiah sebenarnya bukan praktik baru. 

Catatan paling awal tentang eksperimen pada hewan sudah ada sejak sekitar 2.400 tahun lalu, ketika ilmuwan Yunani kuno mendokumentasikan prosedur pembedahan dan pengujian obat menggunakan hewan kecil, termasuk tikus

Meski saat itu pendekatannya masih sangat sederhana, praktik tersebut menjadi fondasi bagi berkembangnya metode eksperimental dalam dunia medis.

Memasuki abad ke-19, tikus mulai digunakan secara lebih sistematis dalam penelitian biomedis. 

Para ilmuwan menyadari bahwa hewan pengerat ini memiliki kesamaan anatomi, fisiologi, dan genetik yang signifikan dengan manusia. 

Kesadaran ini mendorong pemanfaatan tikus sebagai model untuk mempelajari berbagai kondisi medis, mulai dari kanker hingga penyakit langka.

Pada awal abad ke-20, penelitian genetika semakin berkembang dan tikus menjadi salah satu model utama dalam studi pewarisan sifat. 

Melalui proses seleksi dan pembiakan terkontrol, ilmuwan mulai mengembangkan strain khusus dengan karakteristik tertentu. 

Baca juga: Langkah Baru Lawan Kanker Pankreas

Dari sinilah lahir tikus laboratorium albino serta berbagai inbred strains, yakni populasi tikus dengan latar genetik yang sangat seragam. 

Standarisasi ini penting karena memungkinkan hasil penelitian menjadi lebih konsisten dan dapat direplikasi.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved