Antara Dukun, Judi dan Celana Kolor

Akibatnya banyak orang kaya mendadak. Satu contoh yang banyak dipergunj

Antara Dukun, Judi dan Celana Kolor
istimewa
ilustrasi
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Nurfahmi Budianto Langsung dari Afrika Selatan
MUNGKIN
Anda akan mengernyutkan dahi saat membaca lima kata yang menjadi judul tulisan ini. Tapi tenang saja. Tak seharusnya Anda sampai begitu berpikir keras untuk memahami terjemahan sesungguhnya dari apa yang selalu dihubungkan dengan putaran final piala dunia 2010.

Semua kata yang terangkai dalam judul jelas memiliki makna bersambung yang tak bisa terpisahkan begitu saja, apalagi jika merasakan apa yang sebenarnya ada di bumi Afsel ini. Tindak kejahatan dan kriminalitas pun seperti sudah hal biasa yang sebenarnya 'memang' tak perlu dibesar-besarkan begitu saja.

Seorang wartawan asal Aljazair yang sudah berpengalaman meliput putaran final piala dunia sejak Italia '90, Ahmed Benhadj, mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi pada Afsel, terutama jika dihubungkan dengan kriminalitas tingkat kasar ala gengster, adalah hal yang terlalu berlebihan.

Menurutnya, sisi kriminalitas tentu tak akan lepas dari kesempatan yang sebenarnya sudah dibuka oleh sang korban. Ingat kata Bang Napi, "Kejahatan bukan hanya datang karena ada kemauan, tetapi karena ada kesempatan." Dan itulah yang diungkapkan Ahmed, yang membuat sadar kalau rimba raya Afsel sebenarnya sama dengan negara lain.

"Anda dari Indonesia bukan? Saya jamin, jika ada event seperti ini, pasti pihak keamanan di negara Anda tidak berani untuk menjamin tidak bakal ada perampokan atau barang hilang selama kegiatan berlangsung. Saya pikir semua kejahatan fisik itu sama di negara manapun, Aljazair jika dipilih jadi tuan rumah piala dunia, pasti juga tak akan berani menjamin seratus persen soal keamanan," ungkap Ahmed, yang menyebut di negara ketat seperti AS dan Jerman saja, kriminalitas terhadap tim, suporter dan jurnalis selalu ada.

Omongan Ahmed pun menyadarkan satu hal kalau sebenarnya ada beberapa hal yang lebih berbahaya. Dan kali ini yang paling menyolok mata adalah judi! Hal ini selalu menjadi sisi permisif dari sebuah acara bertajuk mencari siapa yang akan menang.

Memang, sebuah keasyikan tersendiri jika bisa ikut serta merasa deg-degan tatkala melihat sebuah pertandingan. Sayang, mungkin inilah yang sedikit terlupakan kalangan di Afsel. Artinya, banyak orang yang memanfaatkan momen empat tahunan ini untuk mengeruk keuntungan besar.

Akibatnya banyak orang kaya mendadak. Satu contoh yang banyak dipergunjingkan orang-orang di Afsel tentu saja Danny Jordaan dan konco-konconya di kepanitaan putaran final piala dunia 2010. Danny tiba-tiba saja menjadi seorang milarder baru di Johannesburg, begitu juga dengan beberapa ketua program FIFA untuk piala dunia 2010. Walhasil, jurang ekonomi yang tercipta malah jauh lebih lebar dan dalam selama perhelatan pesta sepakbola dunia ini.

Satu hal yang sangat merisaukan, seperti enam kata di bagian judul tadi, semua unsur saling kait mengkait. Satu hal yang kini menjadi trend tersendiri adalah penggunaan dukun dan paranormal.

Kalau biasanya Sangoma laris manis, kini orang banyak beralih pada paranormal yang menggunakan media kartu, bola kristal maupun pembacaan garis tangan. Namun khusus piala dunia, semua orang ingin mengetahui tentang pelbagai kemungkinan yang akan terjadi pada sebuah pertandingan, baik itu menang, kalah ataupun seri.

Tak pelak, seperti sudah pernah disinggung terdahulu, paranorma tersebut memiliki banyak variasi, dan itu sangat dibutuhkan para petaruh. Namun dalam beberapa hari terakhir ada sedikit perubahan pola, terutama masalah bayaran. Jika sebelumnya ada tarif, bisa cash ataupun kerjasama bagi hasil, kini beberapa paranormal di Pretoria, Johannesburg dan Rustenburg, rela dibayar berapapun.

Bahkan dengan hanya 10 Rand, seorang petaruh bisa mendapatkan dua pilihan yang biasanya ada dalam item layanan secara detail. Hal inilah yang memancing banyak orang untuk bergerak ke lokasi pembelian tiket untuk meletakkan uang, membeli karcis dan menentukan hasil pertandingan yang tersaji.

Omzet judi di Afsel sendiri sampai dua pekan lebih penyelenggaraan putaran final piala dunia 2010 sudah mencapai miliaran Rand. Angka tersebut terhitung ironis mengingat tingkat pengangguran masih cukup besar dibanding orang produktif.

Apalagi dalam kondisi saat ini, angka pengangguran akan semakin besar tatkala piala dunia telah selesai. Banyak dari mereka yang akan berstatus homeless kembali. Sebuah hal menyedihkan, mengingat saat ini saja sudah mulai bermunculan orang-orang yang hanya bercelana kolor pada siang hari, mengemis di perempatan lampu merah sampai harus menjual sisa pakaian untuk makan.

Paranormal, judi dan kolor celana mungkin menjadi hal yang sulit dihubungkan begitu saja, tapi bakal menjadi sebuah kenyataan tragis di sebuah negara yang banting tulang tidak karuan hanya untuk mendatangkan putaran final piala dunia. Karena itulah saat ada orang Indonesia ngotot membentangkan spanduk dukungan pada tanah air untuk berstatus tuan rumah piala dunia, hanya senyum saja yang keluar.

Jangankan untuk menjadi tuan rumah, mengurus penduduk yang masih harus bercelana kolor saja masih tidak becus. Tapi mungkin untuk urusan menebak, paranormal Indonesia tidak kalah jago, sama jagonya dengan perjudian yang juga merajalela. (*)

Editor: Harismanto
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved