Pilpres 2019

Sandiaga: Erick Thohir Menangis Ketika Tahu Saya Jadi Cawapres

"Pas Ketemu di Wisma Atlet, ketemu, muka dia sudah agak lain gitu, dia sedih gitu saya tinggalin, tenang Rick masih bisa berubah."

Sandiaga: Erick Thohir Menangis Ketika Tahu Saya Jadi Cawapres
Tribunnews.com/ Danang Triatmojo
Sandiaga Uno di Bulungan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (14/9/2018). 

Laporan wartawan Tribunnews.com, Danang Triatmojo

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sandiaga Uno mengungkap sahabatnya sekaligus Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Maruf, Erick Thohir sedih saat tah dirinya didapuk menjadi Calon Wakil Presiden pendamping Prabowo Subianto.

Sandiaga menceritakan, Kamis (9/8/2018) malam sebelum pengumuman deklarasi, dirinya berjumpa dengan Erick di Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Pusat.

Baca: Aktivis 98 Nilai Gerakan #2019GantiPresiden Kemunduran Demokrasi

Wajah Erick memperlihatkan peringai kesedihan kala itu.

"Pas Ketemu di Wisma Atlet, ketemu, muka dia sudah agak lain gitu, dia sedih gitu saya tinggalin, tenang Rick masih bisa berubah. Pak Erick bilang 'nggak lah informasi gua itu elu'," ucap Sandiaga di Bulungan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (14/9/2018).

Keesokan harinya, Sandiaga bersama Erick bertemu di Balai Kota Jakarta guna membahas persiapan Asian Games 2018.

Baca: Politikus PAN: Penggunaan Bahasa Inggris atau Arab Saat Debat Capres Tergantung KPU

Rapat itu kata Sandiaga juga tak direncanakan.

"Pak Erick nangis, asli nangis di sebelah saya dia. Saya juga nangis gitu karena kita tidak menyangka ini terjadi dan dia tidak bilang sepatah kata pun, tapi matanya berkaca-kaca, dia bilang selamat," katanya.

Meski dirinya dan Erick Thohir kini berada di dua kubu berbeda, Sandiaga akan tetap menjalin persahabatan dengan mitra sesama pengusaha itu.

Baca: Setya Novanto Klaim Punya Bukti Kuat Untuk Bongkar Kasus Bank Century

"Tapi persahabatan kita abadi, tukang pijit kita aja sama. Tukang pijit gitu lho. Kita saking deketnya saya juga bingung gitu," katanya.

Dirinya dan Erick menyebut bakal meninggalkan legacy bahwa kompetisi perpolitikan tak harus diakhiri dengan permusuhan dan saling hujat menghujat.

"Saya dan pak Erick akan meninggalkan legacy bahwa politik itu tidak harus bermusuhan, politik itu ya persahabatan tetap abadi. Kita punya tugas masing-masing dan kita akan jalankan tugas kita sebaik-baiknya," ujarnya.

Penulis: Danang Triatmojo
Editor: Adi Suhendi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved