Pilpres 2019

Alasan Prabowo Ubah Gerakan 'Revolusi Putih' Jadi 'Generasi Emas'

Generasi Emas buah pemikiran Prabowo untuk mengatasi penyakit kurang gizi yang dialami banyak masyarakat Indonesia dengan menggalakkan minum susu.

Alasan Prabowo Ubah Gerakan 'Revolusi Putih' Jadi 'Generasi Emas'
TRIBUN/ABRAHAM DAVID
Direktur Media dan Komunikasi Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Hashim Sujono Djojohadikusumo saat tiba di Kantor Redaksi Tribun, Palmerah Barat, Jakarta Pusat, Kamis (18/10/2018). Adik dari Capres Prabowo Subianto mengadakan kunjungan resmi ke kantor redaksi tribun didampingi oleh Badan Pemenangan Nasional (BPN). TRIBUNNEWS/ABRAHAMDAVID 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Rizal Bomantama

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Adik Prabowo Subianto sekaligus Direktur Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Hashim Djojohadikusumo menjelaskan mengapa pihaknya mengubah gerakan “Revolusi Putih” menjadi “Generasi Emas”.

Gerakan itu menurut Hashim adalah buah pemikiran Prabowo untuk mengatasi penyakit kurang gizi yang dialami banyak masyarakat Indonesia dengan menggalakkan minum susu.

Hashim menjelaskan bahwa nama gerakan itu diubah supaya lebih disukai oleh kaum muda atau milenial Indonesia.

"Revolusi putih diubah karena kami mendapat masukan bahwa kata revolusi itu tidak disukai milenial Indonesia zaman sekarang, berbeda dengan generasi saya yang menyukai kata revolusi karena dibutuhkan untuk mengusir Belanda dari Indonesia," ujarnya.

Hal itu disampaikan Hashim saat ditemui di posko pemenangan Prabowo-Sandiaga di Jalan Sriwijaya I, Selong, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (19/10/2018).

Baca: 21 Proyek Abal-abal di Pemkab Lampung Selatan Terbongkar

Hashim menegaskan bahwa nasib yang sama juga dialami gerakan Revolusi Mental yang dipopulerkan Presiden Joko Widodo.

"Sama seperti Revolusi Mental-nya Pak Jokowi yang tidak disukai kaum milenial karena ada kata revolusi," imbuhnya.

Walaupun berganti nama, Hashim menjelaskan bahwa program itu tetap mengusung substansi yang sama.

"Substansinya sama, tambahannya ada selain susu yaitu gerakan makan telur, ikan, kacang hijau, dan lain-lain yang bisa menambah protein dan gizi," ungkapnya.

Hashim mengatakan Prabowo berusaha agar gerakan itu diikuti masyarakat mengingat banyaknya masyarakat Indonesia yang kekurangan gizi dan dalam kondisi prihatin.

"Data dari World Bank dan pemerintah Indonesia sebutkan 38 persen masyarakat Indonesia mengalami kekurangan gizi, dan itu bagi kami sangat memprihatinkan," ujarnya.

Penulis: Rizal Bomantama
Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved