Pilpres 2019

Jelang Debat, Kubu Prabowo-Sandi Soroti Masalah Rantai Distribusi Pangan

Tim ekonomi BPN Arie Mufti mengatakan salah satu yang akan disoroti yakni masalah rumitnya rantai distribusi komoditas pangan

Jelang Debat, Kubu Prabowo-Sandi Soroti Masalah Rantai Distribusi Pangan
KOMPAS IMAGES
Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum DPP Gerindra Prabowo berbincang di Teras Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (17/11/2016). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menjelang debat ke dua Pemilu Presiden pada Jumat 17 Februari 2019, kubu Prabowo-Sandi terus mematangkan materi tema debat. Salah satunya pada bidang pangan.

Tim ekonomi BPN Arie Mufti mengatakan salah satu yang akan disoroti yakni masalah rumitnya rantai distribusi komoditas pangan. Karena menurutnya, masalah rantai distribusi sangat berpengaruh paa harga pangan.

"Masalah rantai distribusi pangan ini, yang kami temui di sejumlah daerah dari 1.161 titik yang dikunjungan, itu riil, tapi pemerintah selalu berlindung dengan angka-angka," kata Arie di Posko pemenangan Prabowo-Sandi, Kamis, (14/2/2019).

Oleh karena itu menurutnya, Prabowo-Sandi berniat menciptakan rantai distribusi sederhana dan berkeadilan.

Selain itu juga berkomitmen untuk tidak melakukan impor pangan khususnya saat panen. Ia menilai, maraknya impor pangan di era Jokowi menjadi salah satu penyebab nilai tukar petai menurun di banding era SBY.

"Banyak petani yang justru tidak gembira saat jelang panen, mereka was-was, takut kalau harga komoditas yang mereka tanam tiba-tiba anjlok saat panen akibat impor," katanya.

Baca: Batal Jenguk Vanessa Angel di Polda Jatim, Bibi Ardiansyah Minta Maaf dan Ungkap Alasannya

Selain itu, kebijakan menghentikan impor pangan juga dilakukan untuk memberantas mafia pangan yang banyak sejak pasca-reformasi.

"Kami menilai problem yang sedemikian kompleks di ekonomi ini bukan problem sektoral, tapi problem fundamental, problem kepemimpinnan nasional. Jadi aneh, bahwa seorang presiden membiarkan meterinya melakukan impor gila-gilaan di saat petani sedang panen," pungkasnya.

Penulis: Taufik Ismail
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved