Pilpres 2019

Ketum PSI: Pilih Jalan Nomor Satu, Nomor Dua Gelap dan Suram

Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Grace Natalie, menyatakan, Indonesia sedang berdiri di sebuah persimpangan

Ketum PSI: Pilih Jalan Nomor Satu, Nomor Dua Gelap dan Suram
Fransiskus Adhiyuda
Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Grace Natalie dalam pidatonya dihadapan dua ribu lima ratus pengurus, kader dan simpatisan PSI pada acara Festival 11 di Jakarta Internasional Expo Kemayoran, Jakarta, Kamis (11/4/2019) malam. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Grace Natalie, menyatakan, Indonesia sedang berdiri di sebuah persimpangan. Kedepan, diberi pilihan jalan yang menjadi skenario Indonesia masa depan.

Grace juga mengatakan, jalan nomor satu adalah jalan yang akan membawa kita menuju Indonesia yang jaya. Indonesia yang demokratis, stabil, dan rakyatnya sejahtera.

"Jalan yang fondasinya sedang dipersiapkan oleh Pak Jokowi lewat pembangunan infrastruktur besar-besaran, dengan skala yang belum pernah kita lihat sebelumnya sejak republik ini berdiri,” kata Grace dalam pidatonya pada acara Festival 11 di Jakarta Internasional Expo Kemayoran, Jakarta, Kamis (11/4/2019) malam.

Baca: Persib Bandung Bisa Ajukan Keberatan Jadwal Kompetisi Hingga Tanggal 19 April 2019

Grace juga menyebut, jalan nomor satu adalah sebuah jalan yang nyata, bukan sesuatu yang mustahil. Berbagai lembaga keuangan kredibel kelas dunia memperkirakan bahwa Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi utama dunia di masa depan.

Ia mencontohkan, Price Waterhouse Coopers (PWC) memprediksi pada 2050, Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi nomor empat dunia. Kita hanya ada di bawah Tiongkok, Amerika Serikat, dan India.

"Sesuatu yang tak pernah kita, atau bahkan para founding fathers dulu bayangkan, akan terjadi pada bangsa ini,” kata Grace Natalie.

Namun, lanjut Grace, skenario ini bisa musnah jika kita memilih jalan nomor dua.

Menurutnya, jalan nomor dua adalah sebuah jalan yang gelap. Jalan yang akan membawa masa depan suram di mana negeri ini terperangkap oleh konflik SARA.

"Pertikaian antarkelompok yang tidak ada habisnya sebagaimana kita lihat terjadi di Irak, Suriah, dan Afghanistan. Sebuah skenario yang sangat mungkin terjadi karena gejalanya sudah muncul di sekeliling kita," ungkap Caleg DPR RI Dapil DKI 3 ini.

Lebih lanjut, Grace mengingatkan, para pollsters telah memberi peringatan bahwa masyarakat kita semakin tidak toleran.

Dan situasi ini sekarang coba ditunggangi oleh para kekuatan politik yang bersedia menggunakan berbagai cara untuk meraih kekuasaan.

Kekuatan politik gelap ini dikelilingi oleh kelompok-kelompok ekstrim, kelompok-kelompok intoleran yang sering memaksakan keyakinannya kepada orang lain.

Penulis: Fransiskus Adhiyuda Prasetia
Editor: Sanusi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved