• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 24 April 2014
Tribunnews.com

Tradisi Unik Menyambut Puasa Masih Lestari

Selasa, 10 Agustus 2010 09:30 WIB
Tradisi Unik Menyambut Puasa Masih Lestari
Serambi Indonesia
Meugang adalah tradisi masyarakat Aceh. Mereka menyembelih seekor kerbau dan dagingnya dimakan menjelang masa puasa. Warga Aceh bisa membeli kerbau ini secara patungan.
TRIBUNNEWS.COM - Bulan Ramadhan sudah diambang pintu. Di sejumlah daerah Indonesia beragam tradisi untuk menyambut bulan suci ini kerap dilakukan. Tidak sekadar tradisi karena di dalamnya mengandung makna. Apa maknanya?

Dugderan

Tradisi ini adanya di Semarang dan berbentuk seperti pasar malam. Para pedagang menjual macam-macam barang, mulai dari mainan anak hingga pakaian. Selain itu, terdapat juga bentuk hiburan seperti komidi putar.

Dugderan dipercaya sebagai gabungan dua kata, yaitu "dug" (suara bedug) dan "der" (suara meriam). Bedug dan meriam dahulu kala dipakai untuk menandai datangnya bulan suci Ramadhan. Biasanya dugderan dimulai satu minggu sebelum puasa dan berakhir tepat satu hari sebelum bulan puasa dimulai.

Balimau

Masyarakat di Sumatera Barat menyambut bulan suci Ramadhan dengan tradisi Balimau. Balimau sendiri dalam bahasa Minangkabau memiliki makna mandi disertai keramas. Tradisi ini merupakan lambang pembersihan diri sebelum mulai berpuasa. Balimau juga dilakukan secara beramai-ramai. Bisa di sungai, danau, atau kolam. Siapapun bisa ikut, dari yang muda sampai yang tua, laki-laki maupun perempuan.

Meugang
Meugang adalah tradisi masyarakat Aceh. Mereka menyembelih seekor kerbau dan dagingnya dimakan menjelang masa puasa. Warga Aceh bisa membeli kerbau ini secara patungan.

Biasanya orang yang secara ekonomi lebih mampu turut memberikan sumbangan agar fakir miskin pun bisa menikmati kebersamaan ini. Di Aceh, Meugang tidak hanya diadakan sebelum hari raya Idul Fitri, tetapi juga saat hari raya Idul Adha.

Makan kue apem
Makan kue apem untuk menandai datangnya bulan puasa lazim dilakukan di Surabaya. Nama kue apem dipercaya berasal dari kata "afwan" dalam bahasa Arab yang artinya maaf. Jadi secara simbolis makan kue apem bisa diartikan memohon maaf pada keluarga, sanak saudara, dan teman.

Setelah makan kue apem, orang-orang yang berkumpul biasanya bersalam-salaman saling meminta maaf, dan melanjutkan acara dengan tahlilan.

Perlon unggahan

Sebelum bulan suci mulai, masyarakat Banyumas mengadakan acara makan besar, disebut dengan Perlon Unggahan. Berbagai macam makanan tersedia, namun yang tidak boleh absen adalah nasi bungkus, serundeng sapi, dan sayur becek. Uniknya, serundeng sapi dan sayur becek harus disiapkan laki-laki dan jumlah mereka harus 12 orang, terutama disebabkan banyaknya kambing dan sapi yang disembelih.

Padusan, Nyadran dan Megengan


Padusan yaitu ritual mandi bersama di kolam dan membersihkan sendang atau telaga.Mandi bersama menjelang puasa di antaranya dilakukan warga di kolam. Warga mempercayai air kolam yang digunakan untuk mandi ini mampu mendatangkan rejeki.

Tradisi ini sudah berlangsung sejak puluhan tahun lalu. Awalnya, tradisi Padusan ini hanya dilakukan warga yang tinggal di sekitar kolam. Namun, sejak lima tahun terakhir, warga dari luar daerah pun mulai berdatangan untuk mandi bersama.

Selain mempercayai rejeki dari air kolam, warga juga berharap akan terhindar dari berbagai macam penyakit. Tentu dengan harapan bisa menjalankan puasa selama sebulan penuh.

di Semarang, Jateng. Mereka mempunyai tradisi nyadran, yaitu mendatangi makam para leluluhur. Sebelumnya warga juga membersihkan telaga atau tempat sumber air yang cukup dipercaya. Para laki-laki dan perangkat desa wajib mengikuti ritual ini. Para laki-laki harus mau dikotori dengan lumpur, begitu juga para perangkat desa. Jika tidak maka diyakini mereka akan mendapatkan musibah.

Setelah nyadran kemudian dilanjutkan dengan memotong ayam. Unggas yang dipotong langsung dimasukkan ke sendang. Mereka juga mewajibkan agar sebagian ayam dibawa pulang untuk disantap. Tradisi ini dipercaya bisa menolak bala atau bencana selama menjalankan ibadah puasa.

Sebagian warga Jawa juga menamakan ini dengan nama tradisi meugengan. Intinya, mengucap syukur menyambut datangnya bulan suci Ramadhaan dengan suka cita.
Editor: Anita K Wardhani
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
39470 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI KOMENTAR SAYA
Atas