• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 24 April 2014
Tribunnews.com

Cara Membayar Puasa Ibu Melahirkan dan Menyusui

Selasa, 2 Agustus 2011 18:31 WIB
Cara Membayar Puasa Ibu Melahirkan dan Menyusui
Ist

TRIBUNNEWS.COM - Jika ibu sedang melahirkan pada Ramadan, kemudian menyusui selama dua tahun, karena mengkhawatirkan keadaan diri saya dan anak, ibu ini tidak puasa. Nah bagaimana cara membayar puasanya?

Ustad A Rahim Audah menjelaskan, kondisi fisik seorang perempuan dalam menghadapi kehamilan dan saat menyusui, memang berbeda-beda. Namun, pada dasarnya, kalori yang dibutuhkan untuk memberi asupan bagi sang buah hati adalah sama, yaitu sekitar 2.200-2.300 kalori per hari untuk ibu hamil dan 2.200-2.600 kalori per hari untuk ibu menyusui.

Kondisi inilah yang menimbulkan konsekuensi berbeda bagi ibu dalam menghadapi saat puasa Ramadan. Ada yang merasa tidak bermasalah atas dirinya dan sang bayi, sehingga dapat menjalani puasa.

Namun demikian, ada ibu yang mengkhawatirkan keadaan dirinya jika harus terus berpuasa Ramadan. Begitu pula para ibu yang memiliki buah hati yang lemah kondisi fisiknya, masih sangat tergantung asupan makanan dari sang ibu melalui air susu ibu.

Kedua kondisi terakhir, memiliki konsekuuensi hukum yang berbeda bentuk pembayarannya.

1. Untuk ibu hamil dan menyusui, mengkhawatirkan keadaan dirinya saja bila berpuasa maka wajib mengqadha (tanpa fidyah) di hari yang lain ketika telah sanggup berpuasa. Keadaan ini disamakan orang yang sedang sakit dan mengkhawatirkan keadaan dirinya. (QS Al Baqarah: 184).

2. Untuk ibu hamil dan menyusui, mengkhawatirkan keadaan dirinya dan buah hati bila berpuasa; si ibu wajib mengqadha (saja) sebanyak hari-hari puasa yang ditinggalkan ketika sanggup melaksanakan.

3. Untuk ibu hamil dan menyusui, mengkhawatirkan keadaan si buah hati saja, ulama berbeda pendapat tentang proses pembayaran puasa sang ibu.

Dalil ulama yang mewajibkan sang ibu membayar qadha saja, sama sebagaimana kondisi pertama dan kedua, perempuan hamil atau menyusui disamakan statusnya sebagaimana orang sakit. Pendapat ini dipilih oleh Syaikh Bin Baz dan Syaikh As-Sa'di rahimahumallah

Dalil ulama yang mewajibkan sang ibu untuk membayar fidyah saja, sama sebagaimana dalil ulama yang mewajibkan qadha dan fidyah, yaitu perkataan Ibnu Abbas radhiallahu'anhu, "Wanita hamil dan menyusui, jika takut terhadap anak-anaknya, maka mereka berbuka dan memberi makan seorang miskin" ( HR Abu Dawud).

Perempuan hamil dan menyusui hanya membayar fidyah, "Dan wajib bagi orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar diyah (yaitu) membayar makan satu orang miskin" (QS Al-Baqarah: 184).

Perempuan hamil dan menyusui, yang mengkhawatirkan anaknya dianggap sebagai orang yang tercakup dalam ayat ini. Pendapat ini termasuk yang dipilih Syaikh Salim dan Syaikh Ali Hasan hafidzahullah.

Dalil ulama yang mewajibkan qadha disertai fidyah, sebagaimana kondisi pertama dan kedua, yaitu wajibnya bagi orang yang tidak berpuasa untuk mengqadha di hari lain ketika memiliki kemampuan. Para ulama berpendapat tetap wajibnya mengqadha puasa ini, karena tidak ada dalam syariat yang menggugurkan qadha bagi orang yang mampu mengerjakannya.

Sedangkan dalil pembayaran fidyah pada kondisi ketiga ini, termasuk dalam keumuman surah Al-Baqarah: 184, juga dikuatkan perkataan Ibnu Abbas radhiallahu'anhu, "Wanita hamil dan menyusui, jika takut terhadap anak-anaknya, maka mereka berbuka dan memberi makan seorang miskin" (HR Abu Dawud, dishahihkan oleh Syaikh Al Bani dalam Irwa'ul Ghalil).

Begitu pula jawaban Ibnu Umar radhiallahu'anhu ketika ditanya tentang wanita hamil yang khawatir terhadap anaknya, beliau menjawab, "Hendaklah berbuka dan memberi makan seorang miskin setiap hari yang ditinggalkan."

Adapun perkataan Ibnu Abbas dan Ibnu `Umar radhiallahu'anhuma yang hanya menyatakan untuk berbuka tanpa menyebutkan wajib mengqadha, karena hal tersebut (mengqadha) sudah lazim dilakukan ketika seseorang berbuka saat Ramadan.

Demikian tentang qadha dan fidyah, semoga menjadi landasan bagi kita untuk beramal. Adapun ketika ada perbedaan pendapat di kalangan ulama, ketika saudari kita menjalankan salah satu pendapat ulama tersebut dan berbeda dengan pendapat yang kita pilih, kita tidak berhak memaksakan atau menganggap saudari kita tersebut melakukan suatu kesalahan.

Editor: Anita K Wardhani
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
145083 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI KOMENTAR SAYA
Atas