• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 25 April 2014
Tribunnews.com

Raup Untung dari Lemang Hangat Di Bulan Puasa

Jumat, 5 Agustus 2011 16:57 WIB
Raup Untung dari Lemang Hangat Di Bulan Puasa
TRIBUN BATAM
Penjual lemang

Laporan  Wartawan Tribunnews.com, Novyana Handayani

TRIBUNNEWS.COM - Jarang-jarang bisa menikmati lemang yang masih hangat dari panggangan di Tanjungpinang. Hal tersebut langsung ditangkap Roni sebagai peluang usaha. Bermodalkan sekitar Rp 500 ribu saja, dalam sehari ia bisa meraup untung bersih sekitar Rp 1 juta.

Di pinggir jalan di dekat Perumahan Pinang Kencana, Roni terlihat asyik menjaga ratusan batang lemang yang sedang dibakar. Sesekali ia menambah santan ke dalam batangan bambu yang sudah mulai mengering.

Roni yang sehari-hari membuka penakaran lele di Batu 12 ini, mulai berjualan lemang sejak puasa pertama. Tak tanggung-tanggung, meskipun tanpa promosi dalam sehari ia bisa meraup Rp 1,5 juta. "Satu hari bisa dapat Rp 1.500.000. Kalau untung bersih Rp 1 juta. Yang Rp 500 ribu biaya makan dan bahan-bahan," ujar Roni.

Dalam sehari setidaknya 100 batang lemang berhasil ia jual. Dengan harga Rp 15 ribu per batangnya. Lemang yang dijualnya jauh berbeda dengan lemang-lemang lain yang biasa dijual di tempat penjualan kue. Pasalnya lemang buatan Roni masih hangat dari panggangan.

Demi meraup untung, Roni hampir tidak pulang seharian. Hanya pulang untuk mandi dan berganti pakaian saja. Pasalnya bila lemangnya mulai habis, walaupun sudah malam hari ia tetap mulai membakar yang baru.

Pasalnya dibutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk membakar lemang. "Bakarnya empat jam. Tapi sebelumnya pulut direndam dulu tiga jam," terang pria yang sempat 25 tahun bekerja di Malaysia. Untuk lemang yang dijual pagi hari, ia sudah mulai membakar sudah dinihari.

Dalam sehari ia bisa membakar setidaknya 300 batang lemang. Untuk membuatnya tidak sulit, selain merendam pulut putih selama tiga jam, lemang yang dibungkus daun pisang sebelum dimasukan ke batang bambu akhirnya dibakar.

Proses membakarnya juga tidak sulit, hanya sesekali dibalik dan ditambah santan. Proses pembakaran tersebut juga yang menarik pembeli. Para pengendara yang lewat terlihat mampir demi membawa pulang lemang yang masih hangat.

Seorang pembeli mengaku tidak pernah melihat lemang yang dijual dalam keadaan masih hangat di Tanjungpinang. "Tak pernah saya lihat yang kayak gini di Pinang. Saya pernah coba buat tapi gagal," sebut seorang ibu.

Lemang tersebut bisa dibawa pulang dengan batang bambungnya, demi tetap menjaga kehangatan. Karena ramainya pembeli, kini Roni membuka cabang di dekat SMPN 7 yang dijaga oleh adiknya.

Roni mengaku, meskipun harus menjual lemang masih lebih baik dari bekerja di Malaysia. "Kalau sekarang saya bilang lebih enak di negara sendiri. Disana banyak yang disiksa. Walaupun kita benar, tapi tetap salah. Makanya kalau ada kawan yang mau ke Malaysia, saya bilang lebih baik jangan," ujar pria yang sudah 25 tahun makan asam garam di negeri jiran ini.

Editor: Anita K Wardhani
Sumber: Tribun Batam
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
146334 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI KOMENTAR SAYA
Atas