Jumat, 28 November 2014
Tribunnews.com

25 Hari Tamat Satu Kitab

Jumat, 12 Agustus 2011 15:37 WIB

25 Hari Tamat Satu Kitab
TRIBUN JABAR
Pontren Benda Kerep Cirebon

TRIBUNNEWS.COM - SEJUMLAH santri duduk terdiam dan dengan saksama mendengarkan ceramah dari sang ustaz, di sebuah ruangan kecil. Sekitar pukul 10.30, mereka membubarkan diri dan beranjak ke kamar tidur masing-masing.

Itulah pemandangan di Pesantren Benda Kerep, yang terletak di Kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon.

Pada bulan suci Ramadan, santri-santri itu memiliki agenda lebih padat dibandingkan pada bulan biasanya. Bulan ini mereka memiliki kewajiban menamatkan satu kitab dalam 25 hari. Dari ilmu fikih, tafsir, hadis, dan tata bahasa Arab alias nahwu saraf.

Pondok pesantren yang terletak di pinggir Kota Cirebon itu memiliki 240 santri pria dan sekitar 100 santri perempuan. Namun, pada saat bulan suci Ramadan, jumlahnya meningkat dan bisa mencapai lebih dari 300 santri. Mereka tidak hanya berasal dari wilayah III Cirebon, tapi ada juga yang berasal dari Bandung, Jakarta, dan Banten.

Salah satu pengurus Pondok Pesantren Benda Kerep, Ustaz Miftah, mengatakan, beberapa santri di antaranya merupakan anak-anak yang putus sekolah karena tidak memiliki biaya. Jumlahnya mencapai sekitar 40 santri.

Menurut dia, anak-anak itu tetap harus dijaga dan mendapat pendidikan, khususnya pendidikan agama.

"Orangtua mereka sudah menitipkan. Daripada mereka di luar menjadi macam-macam, lebih baik di pesantren untuk dididik dan mendapat pendidikan agama. Di sini mereka juga memiliki banyak kegiatan," kata pria berusia 42 tahun ini ketika ditemui di rumahnya, di bagian belakang pesantren, kemarin.

Selama ini, pesantren hidup dari penghasilan sawah dan perkebunan milik Miftah. Selain itu, ada sumbangan dari sejumlah alumni yang memiliki cerita kesuksesan di Ibu Kota. Ayah dua anak ini enggan mengajukan proposal atau meminta sumbangan kepada pihak lain.

"Kalau ada yang mau ngasih, monggo aja. Tapi pantangannya adalah meminta. Kami juga tidak suka mengajukan proposal. Lebih utama tangan di atas dibandingkan dengan tangan di bawah. Ulama salaf dari dulu tidak ada yang seperti itu," katanya.

Miftah menganggap cara-cara meminta merupakan hal yang memalukan, terutama terhadap agama lain. Menurut dia, tidak baik memaksakan keadaan yang tidak mampu.

Anak-anak tidak mampu sekolah, semakin banyak yang belajar di pesantren yang dibangun pada 1862 oleh Mbah Sepuh Soleh ini. Kalau tidak ada sangu untuk anak-anak ini, dia lebih memilih bantuan dari kerabatnya, dibandingkan meminta kepada pihak lain.

"Ya, kami terbuka dari usia sekolah dasar sampai tingkat perguruan tinggi. Apalagi bagi mereka yang ingin memperdalam kitab kuning atau Alquran. Pesantren ini kan dibangun  untuk membantu dakwah Sunan Gunung Jati dan wali sanga pada umumnya," ujarnya.

Editor: Anita K Wardhani
Sumber: Tribun Jabar

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas