Senin, 30 Maret 2015
Tribunnews.com

I'tikaf dan Muhasabah di Akhir Ramadan

Selasa, 30 Agustus 2011 02:54 WIB

Oleh Dr Cholil Nafis MA

SEPULUH hari terakhir di bulan Ramadan menjadi hari-hari yang sangat berarti bagi umat Islam, sampai-sampai sahabat Nabi menggambarkan Rasulullah SAW  pada masa-masa itu mengencangkan kain sarungnya.

Hal ini berkaitan dengan sabda Rasulullah sendiri yang mengatakan, "Bulan Ramadhan itu dibagi dalam tiga fase. Fase pertama rahmah, fase kedua ampunan, dan fase ketiga terbebas dari api neraka." Sepuluh hari terakhir merupakan fase terbebas dari api neraka yang artinya jika seorang muslim melakukan ibadah puasa dan ibadah lainnya dengan ikhlas serta sunggugh-sungguh pada hari-hari itu maka ia akan terbebas dari api neraka.

Sepuluh hari terakhir ini semakin dianggap bermakna karena diyakini pada satu dari hari-hari itu ada sebuah malam yang sangat istimewa yaitu malam Lailatul Qadar. Siapa yang mendapati malam tersebut dan melaksanakan ibadah maka ibadahnya dalam satu malam itu lebih baik dari ibadah seribu bulan.

Oleh karena itu, Nabi SAW bila memasuki sepuluh akhir (dari bulan Ramadan), beliau mengencangkan sarung, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya". (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Satu di antara amalan yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan adalah I'tikaf; berdiam diri di masjid dengan niat ibadah kepada Allah. Sebagaimana diriwayatkan dari Aisyah ra, beliau mengatakan,

"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Aku membuatkan tenda untuk beliau. Lalu beliau shalat subuh kemudian masuk ke tenda i'tikafnya." (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Halaman123
Editor: Hasiolan Eko P Gultom
JANGAN LEWATKAN
KOMENTAR

TRIBUNnews.com © 2015

About Us

Help

Atas