• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 25 Oktober 2014
Tribunnews.com

I'tikaf dan Muhasabah di Akhir Ramadan

Selasa, 30 Agustus 2011 02:54 WIB

Oleh Dr Cholil Nafis MA

SEPULUH hari terakhir di bulan Ramadan menjadi hari-hari yang sangat berarti bagi umat Islam, sampai-sampai sahabat Nabi menggambarkan Rasulullah SAW  pada masa-masa itu mengencangkan kain sarungnya.

Hal ini berkaitan dengan sabda Rasulullah sendiri yang mengatakan, "Bulan Ramadhan itu dibagi dalam tiga fase. Fase pertama rahmah, fase kedua ampunan, dan fase ketiga terbebas dari api neraka." Sepuluh hari terakhir merupakan fase terbebas dari api neraka yang artinya jika seorang muslim melakukan ibadah puasa dan ibadah lainnya dengan ikhlas serta sunggugh-sungguh pada hari-hari itu maka ia akan terbebas dari api neraka.

Sepuluh hari terakhir ini semakin dianggap bermakna karena diyakini pada satu dari hari-hari itu ada sebuah malam yang sangat istimewa yaitu malam Lailatul Qadar. Siapa yang mendapati malam tersebut dan melaksanakan ibadah maka ibadahnya dalam satu malam itu lebih baik dari ibadah seribu bulan.

Oleh karena itu, Nabi SAW bila memasuki sepuluh akhir (dari bulan Ramadan), beliau mengencangkan sarung, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya". (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Satu di antara amalan yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan adalah I'tikaf; berdiam diri di masjid dengan niat ibadah kepada Allah. Sebagaimana diriwayatkan dari Aisyah ra, beliau mengatakan,

"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Aku membuatkan tenda untuk beliau. Lalu beliau shalat subuh kemudian masuk ke tenda i'tikafnya." (HR Al-Bukhari dan Muslim)

I'tikaf menjadi ibadah yang penting karena Rasulullah SAW menganjurkan kaum muslim melakukannya terutama pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, tentu memiliki makna besar bagi kaum muslim.

I'tikaf yang mensyaratkan pelakunya tetap berdiam diri di masjid kecuali untuk menunaikan hajatnya sangat mendesak, di samping sebagai taqarrub (mendekatkan diri) juga sebagai wahana  bermuhasabah (introspeksi diri) kepada Allah SWT. Saat-saat I'tikaf sangat tepat jika dilakukan untuk bermuhasabah kepada Allah SWT, yaitu pengakuan (i'tiraf) akan kesalahan-kesalahan dan maksiat yang telah kita perbuat kepada Allah SWT.

Saat berdiam diri di dalam masjid, pikiran difokuskan kepada perbutan yang pernah  kita lakukan, dan mengakui begitu banyak perbuatan yang kita lakukan masih lebih banyak perbuatan  sia-sia, kemaksiatan, ketidaktaatan, membuat kerugian terhadap orang lain, dan menyadari begitu sedikit kebaikan yang baru kita lakukan.

Di hadapan Allah SWT, kita merasa kecil belum bermakna apa-apa, sehingga kita terdorong untuk terus menambah kebaikan. Orang-orang yang mau bermuhasabah adalah orang-orang yang berpikir rasional karena apapun yang akan dilakukan di hari esok telah dipikirkan dan dibandingkan dengan perbuatan sebelumnya.

Hal ini sebagaimana seruan Allah SWT, "Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah; dan hendaknya setiap diri melihat apa yang telah ia perbuat untuk hari esoknya" (QS  Al-Hasyr : 18).

Menghisab diri

Rasulullah saw sendiri menyebut orang-orang yang mau bermuhasabah dengan sebutan orang  cerdas, dalam sabdanya,

"Orang pandai adalah orang yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT." (HR Imam Turmudzi).  

Karena itu Sahabat Umar Ibn Al-Khattab berkata, "Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan berhiaslah (bersiaplah) kaliau untuk hari aradh akbar (yaumul hisab/hari hisab).  Dan bahwasanya hisab itu akan menjadi ringan pada hari kiamat bagi orang yang menghisab dirinya di dunia."

Alquran juga telah mengajarkan muhasabah melalui i'tiraf Nabi Adam as, setelah ia melanggar  larangan Allah tidak boleh makan buah khuldi tetapi ia memakannya.

Beliau bersama istrinya berkata, "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi." [QS al A'raf: 23.].

Ketika Nabi Musa as secara tidak sengaja membunuh seorang manusia, sebelum beliau mendapatkan kerasulannya, segera meminta ampunan kepada Tuhannya atas kesalahannya itu. Musa mendoa, "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku." Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." [QS al Qashash: 16]

Juga ada sebuah i'tiraf yang sangat terkenal berasal dari Abu Nawas seorang penyair pada zaman khalifah Harun Al-Rasyid, "Tuhanku... aku tidak layak memasuki surga firdaus.

Dan aku pun tak mampu menahan siksa api Neraka. Terimalah taubatku dan ampunilah dosa-dosaku Sesungguhnya Engkaulah Pengampun dosa-dosa besar. Dosa-dosaku amatlah banyak bagai butiran pasir. Terimalah taubatku, wahai Yang Maha Agung."

Editor: Hasiolan Eko P Gultom
0 KOMENTAR
154971 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
    Jadilah yang pertama memberikan komentar
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas