I'tikaf dan Muhasabah di Akhir Ramadan

Sampai-sampai sahabat Nabi menggambarkan Rasulullah SAW pada masa-masa itu mengencangkan kain sarungnya di akhir ramadan.

Oleh Dr Cholil Nafis MA

SEPULUH hari terakhir di bulan Ramadan menjadi hari-hari yang sangat berarti bagi umat Islam, sampai-sampai sahabat Nabi menggambarkan Rasulullah SAW  pada masa-masa itu mengencangkan kain sarungnya.

Hal ini berkaitan dengan sabda Rasulullah sendiri yang mengatakan, "Bulan Ramadhan itu dibagi dalam tiga fase. Fase pertama rahmah, fase kedua ampunan, dan fase ketiga terbebas dari api neraka." Sepuluh hari terakhir merupakan fase terbebas dari api neraka yang artinya jika seorang muslim melakukan ibadah puasa dan ibadah lainnya dengan ikhlas serta sunggugh-sungguh pada hari-hari itu maka ia akan terbebas dari api neraka.

Sepuluh hari terakhir ini semakin dianggap bermakna karena diyakini pada satu dari hari-hari itu ada sebuah malam yang sangat istimewa yaitu malam Lailatul Qadar. Siapa yang mendapati malam tersebut dan melaksanakan ibadah maka ibadahnya dalam satu malam itu lebih baik dari ibadah seribu bulan.

Oleh karena itu, Nabi SAW bila memasuki sepuluh akhir (dari bulan Ramadan), beliau mengencangkan sarung, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya". (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Satu di antara amalan yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan adalah I'tikaf; berdiam diri di masjid dengan niat ibadah kepada Allah. Sebagaimana diriwayatkan dari Aisyah ra, beliau mengatakan,

"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Aku membuatkan tenda untuk beliau. Lalu beliau shalat subuh kemudian masuk ke tenda i'tikafnya." (HR Al-Bukhari dan Muslim)

I'tikaf menjadi ibadah yang penting karena Rasulullah SAW menganjurkan kaum muslim melakukannya terutama pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, tentu memiliki makna besar bagi kaum muslim.

I'tikaf yang mensyaratkan pelakunya tetap berdiam diri di masjid kecuali untuk menunaikan hajatnya sangat mendesak, di samping sebagai taqarrub (mendekatkan diri) juga sebagai wahana  bermuhasabah (introspeksi diri) kepada Allah SWT. Saat-saat I'tikaf sangat tepat jika dilakukan untuk bermuhasabah kepada Allah SWT, yaitu pengakuan (i'tiraf) akan kesalahan-kesalahan dan maksiat yang telah kita perbuat kepada Allah SWT.

Saat berdiam diri di dalam masjid, pikiran difokuskan kepada perbutan yang pernah  kita lakukan, dan mengakui begitu banyak perbuatan yang kita lakukan masih lebih banyak perbuatan  sia-sia, kemaksiatan, ketidaktaatan, membuat kerugian terhadap orang lain, dan menyadari begitu sedikit kebaikan yang baru kita lakukan.

Halaman
12
Editor: Hasiolan Eko P Gultom
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2016
About Us
Help