• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Selasa, 29 Juli 2014
Tribunnews.com

Menag Kecewa Muhammadiyah tak Mau Hadir Sidang Isbat

Kamis, 19 Juli 2012 15:28 WIB
Menag Kecewa Muhammadiyah tak Mau Hadir Sidang Isbat
tribunnews.com/herudin
Menteri Agama Suryadharma Ali

TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA—Menteri Agama Suryadharma Ali menyesalkan keputusan Muhammadiyah yang tidak hadir dalam penetapan 1 Ramadhan. Sedianya, penetapan awal Ramadhan akan diputuskan pemerintah melalui sidang isbat sore nanti.

“Tentu saya menyesalkan kalau Muhammdiyah tidak hadir,” ujar  Menag kepada wartawan, di Kompleks Istana Negara, Jakarta, Rabu (19/7/2012).

Menag berharap, Muhamadiyah bisa hadir dan berdiskusi dalam penetapan 1 Ramadhan yang sedianya diputuskan pemerintah melalui sidang isbath sore nanti dengan melibatkan ormas-ormas Islam di Kementerian Agama.

Perbedaan-perbedaan yang ada dalam penetapan mulainya bulan suci Ramadan bisa diatasi dan akhirnya keputusan bersama bisa diperoleh bila Muhammadiyah berkenan hadir bersama ormas Islam lainnya

“Saya masih berharap untuk Muhammadiyah hadir, agar tidak memperuncing perbedaann. Yang terpenting kebersamaanya,” jelasnya berharap.

Sebelumnya, alasan Muhammadiyah tidak menghadiri sidang isbat karena faktor perbedaan keyakinan antara Muhammadiyah dan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Agama Republik Indonesia.

"Muhammadiyah merasa tidak perlu lagi untuk menghadiri rapat isbat karena alasan ini keyakinan yang tidak boleh diintervensi oleh pemerintah. Untuk tahun-tahun yang akan datang, Muhammadiyah juga tidak boleh diintervensi dan menyatakan tidak ikut sidang itu (isbat)," kata Din Syamsuddin, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, di Jakarta, Kamis (19/7/2012).

Din menilai sidang isbat yang digelar pemerintah nanti sore hanya basa-basi karena pemerintah tidak mengakomodasi aspirasi-aspirasi dari ormas keagamaan yang ada. Pemerintah dalam sidang isbat hanya menentukan keputusan secara sepihak. Oleh karena itu, tidak ada gunanya Muhammadiyah menghadiri sidang isbat.

Din kemudian mengimbau agar semua pihak menghargai sikap Muhammadiyah yang memiliki wewenang menentukan keputusan tidak lagi menghadiri sidang isbat.

"Itu sikap Muhammadiyah, mohon dihargai oleh ormas lain dan pemerintah," pintanya.

Penulis: Srihandriatmo Malau
Editor: Rachmat Hidayat
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
6 KOMENTAR
740222 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
  • mimit rahmat-Jumat, 19 Juli 2013 Laporkan
    alasan apapun boleh saja. tapi kebersamaan (hadir dalam sidang isbat)tentunya itu lebih baik. saya khawatir ini menjadi preseden buruk ke depan bagi muhammadiyah. ormas yang kecil aja hadir, masa ormas sebesar muhammadiyah masa tidak mau hadir? pertanda a
  • picek tenan-Minggu, 22 Juli 2012 Laporkan
    Muhammadiyah kalo emang anda pinter seharusnya menyumbangkan kepinteran anda buat negri ini,jangan malah jadi pecundang seperti itu.
    Di tambah lagi bikin peryataan yang menjurus fitnah dan merendahkan orang lain,kalo anda gak suka dengan hukum yg berlaku
  • Turisno Kemit-Jumat, 20 Juli 2012 Laporkan
    Gak usah terus terusan dibahas. Masalah Khilafiyah ini sudah ada sejak tahun JEBOD. Yang pada ngaku jadi Pemimpin gak usah pada bodoh dan arogan saling klaim hanya dirinya / kelompoknya yang paling benar. Jangan sampai di Negeri kita terjadi seperti di Ti
  • Abdul Latif-Jumat, 20 Juli 2012 Laporkan
    Assalamu'alaikum wrwb
    Keyakinan beragama tidak mungkin di satukan dan dipaksa. Pemerintah tdk berhak ikut campur masalah keyakinan agama,dan tafsiran ayat2 ALLAH seperti di Saudi,Iran dan Taliban.Pemerintah harus netral,adil dan melindungi setiap keyakina
  • ulama-Kamis, 19 Juli 2012 Laporkan
    mungkin ilmu ulama Muhammadiyah sudah
    sangat tinggi di awan jadi tidak perlu lagi
    bersilaturrahmi dengan ulama lain yang
    masih membumi
  • fsuwardi-Kamis, 19 Juli 2012 Laporkan
    Tuh katanya diminta menghargai
    perbedaan... Tapi kalo perbedaannya yg
    laen, mana ada toleransi?
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas