Minggu, 21 Desember 2014
Tribunnews.com

Presiden Soekarno Rasakan Ademnya Masjid Raya Cipaganti

Sabtu, 21 Juli 2012 11:32 WIB

Presiden Soekarno Rasakan Ademnya Masjid Raya Cipaganti
TRIBUN JABAR
Masjid Cipaganti

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Ida Romah

TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG  - MASJID Raya Cipaganti adalah salah satu masjid tua di Kota Bandung. Masjid yang berdiri pada 7 Februari 1933 lalu berada di titik strategis, yakni pinggir Jalan Cipaganti dan dekat dengan sejumlah tempat seperti pusat belanja Cihampelas, Setiabudi, dan Sukajadi.

Pengurus DKM Masjid Raya Cipaganti, Uju Dimyati mengatakan masjid ini banyak menerima jemaah, tidak hanya warga Bandung tapi juga para pelancong. Jemaah mengatakan masjid ini adem.

Bahkan, kesejukan Masjid ini kerap dirasakan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno.

"Katanya Masjid ini adem. Dulu pak Soekarno ering ke sini ketika berada di Bandung. Kemudian Panglima TNI AH Nasution juga," ujar Uju.

Masjid ini dirancang oleh arsitek Belanda Charles Prosper Wolff Schoemaker (arsitek Hotel Preanger dan Villa Isola) dibantu Het Keramische Laboratorium Bandung (sekarang Balai Besar Keramik). Ketika itu, Gubernur Hindia-Belanda memerintah agar pusat kota beralih ke utara.

Karena itu, Bupati Bandung R Tumenggung Hassan Sumadipradja bersama Patih Bandung R Wirijadinata dan Penghulu Bandung H Abdoel Kadir mengusulkan agar dibangun masjid di Jalan Cipaganti No 85 (dulu namanya Banana Street). Atas dukungan semua pihak, akhirnya masjid pun terwujud dengan ukuran 9x15 meter.

Seiring dengan perkembangan, sejumlah tokoh dari Sukajadi yang dikomandoi Camat Sukajadi ketika itu mengusulkan agar bangunan masjid diperluas. "Ini karena bangunan masjid yang tak lagi mampu menampung jemaah," kata dia saat ditemui Tribun di area Masjid Raya Cipaganti, Selasa (17/7/2012).

Karena itu, pada 1965 masjid diperluas ke kanan dan kiri, masing-masing 17 meter, dan ke belakang sekitar 15 meter. Masjid pun mampu menampung lebih banyak jemaah.

Walau diperluas, bangunan pokok masjid sejak pertama dibangun tetap ada. Bangunan itu tidak diubah, dibiarkan asli seperti sedia kala. Bangunan masjid pertama itu menjadi bagian tengah masjid sekarang.

Kaligrafi di pintu masuk, kalimat hamdalah di sokoguru, plafon, dan desain interior tetap dibiarkan seperti sejak 1933. Lampu ukuran besar juga masih digunakan dan digantung di tengah bangunan utama masjid.

Setiap hari Jumat, masjid dipadati jemaah salat Jumat. Bahkan masjid tak sanggup menampung jemaah sehingga pelaksanaan salat Jumat meluber ke jalan raya.

Saat Ramadan dan Idulfitri, masjid makin ramai. Apalagi DKM menggelar sejumlah kegiatan, mulai tarawih berjamaah, tadarus Alquran, salat dan ceramah Subuh, iktikaf, takjil gratis, buka bersama, sampai bazar buku, hingga pelatihan pemulasaraan jenazah.

Bagi yang penasaran ingin singgah di Masjid Raya Cipaganti, aksesnya sangat mudah. Tinggal menyusuri Jalan Cipaganti ke arah Setiabudhi, pasti menemukan bangunan masjid di pinggir kiri jalan. Jalan Cipaganti juga dilalui angkutan kota, terutama yang tujuan Ledeng.

Klik juga :

Begini Cara Rasulullah Berelaksasi Sebelum Shalat

Editor: Anita K Wardhani
Sumber: Tribun Jabar

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas