• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 25 April 2014
Tribunnews.com

Cara dan Manfaat Itikaf

Selasa, 7 Agustus 2012 01:23 WIB
Cara dan Manfaat Itikaf
Wahyu Aji/Tribunnews.com
Ustad Jefri Al Buchori

Oleh Ustadz Jefry Al Bukhori

Pada bulan Ramadan disunahkan kepada kita untuk beritikaf. Rasulullah SAW biasa beritikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan sebagaimana disebutkan dalam hadis berikut ini: "Dari Ibnu Umar bahwasannya Nabi SAW beritikaf pada sepuluh (hari) yang terakhir di bulan Ramadan.'' (HR Muslim).

Pengertian itikaf menurut istilah syar'i, yaitu berdiam (tinggal) di atas sesuatu. Dapat dikatakan bagi orang-orang yang tinggal di masjid dan menegakkan ibadah di dalamnya sebagai mu'takif dan `akif atau orang yang beritikaf.
 
Mengapa itikaf? Al-Alamah Ibnu Al-Qayyim mengatakan, "Disyariatkannya itikaf adalah agar berkumpulnya hati kepada Allah, berkhalawat dengan-Nya, dan memutuskan (segala) kesibukan dengan mahluk, serta hanya menyibukkan diri kepada Allah semata, sehingga ia mengingat-Nya, bertafakur dalam mendapat keridhaan, dan mendekatkan diri kepada Allah..."
 
"Hal itu dimaksudkan agar Allah bersikap lembut kepadanya pada hari kesedihan di dalam kubur, manakala sudah tidak ada lagi yang berbuat lembut kepadanya dan (manakala) tidak ada lagi yang dapat membahagiakan (dirinya), selain daripada-Nya. Inilah maksud dari itikaf yang agung itu. (Dikutip dari kitab Zadul Ma'ad Juz 2 hal.86-87).
 
Itikaf juga boleh dikerjakan di luar bulan Ramadan. Dalil tentang ini sebagai berikut, Dari Ibnu Umar bahwasannya ia bertanya kepada Nabi SAW, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku pernah bernadzar pada zaman Jahiliyah (dahulu), (yaitu) aku akan beritikaf pada malam hari di Masjidilharam." Beliau SAW bersabda, "Tunaikanlah nadzarmu". Maka ia (Umar) pun beritikaf pada malam harinya. (HR Bukhari dan Muslim).
 
Ibadah itikaf memiliki beberapa kaidah dan hukum yang harus dipenuhi sebagaimana ibadah lainnya. Di antara kaidah yang harus ditepati adalah menyangkut waktu pelaksanaannya. Para ulama berbeda pendapat mengenai kapan dimulainya itikaf dan berapa lama waktunya.

Pendapat yang rajih (paling kuat) mengatakan bahwa waktu itikaf yang paling baik dimulai sesudah salat subuh. Hal ini berdasarkan sebuah hadis dari Aisyah, ia berkata, "Rasulullah SAW apabila hendak beritikaf, maka beliau mengerjakan salat subuh, kemudian masuk ke tempat itikafnya." (HR Abu Ya'la dan An-Nasa'i).
 
Adapun batas minimal (waktu) pelaksanaan itikaf, para ulama pun berbeda pendapat. Menurut Imam An-Nawawi di dalam kitab Al-Minhaj mengatakan, "Seseorang boleh beritikaf sesaat dalam waktu yang singkat."

Selanjutnya mengenai rukun-rukun itikaf adalah sebagai berikut: pertama adanya niat. Karena tidak sah suatu amalan melainkan dengan niat. Sabda Rasulullah, "Setiap amalan itu hanyalah bergantung kepada niat." (HR Muttafaq alaih).

Kedua, tidak disyariatkan di tempat lain kecuali di masjid. Berdasarkan firman Allah SWT dalam surah Al-Baqarah ayat 187, ".Tetapi jangan kamu campuri mereka, ketika kamu beritikaf dalam masjid."

Berita Terkait: Ramadan 2012

Editor: Willy Widianto
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
802592 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI KOMENTAR SAYA
Atas