• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Selasa, 21 Oktober 2014
Tribunnews.com

Cara Beritikaf

Kamis, 9 Agustus 2012 07:45 WIB
Cara Beritikaf
TRIBUN SUMSEL/ABRIANSYAH LIBERTO
Warga sedang i?tikaf di Masjid Agung Palembang, Selasa (24/7/2012). Banyak para pengunjung mendatangi masjid-masjid di Palembang untuk beri?tikaf. Selain itu banyak juga warga memanfaatkan waktu usai shalat Dzuhur dengan istirahat. Waktu luang di bulan puasa ini diisi warga dengan beribadah dan beristirahat di Masjid Agung Palembang. (TRIBUN SUMSEL/ABRIANSYAH LIBERTO)

TRIBUNNEWS.COM - PADA Ramadan disunahkan kepada kita untuk beritikaf. Rasulullah SAW biasa beritikaf pada sepuluh hari terakhir Ramdan sebagaimana disebutkan dalam hadis: Dari Ibnu Umar bahwasannya Nabi SAW beritikaf pada sepuluh (hari) yang terakhir di bulan Ramadan (HR Muslim).

Pengertian itikaf menurut istilah syar'i, yaitu berdiam (tinggal) di sesuatu tempat. Dapat dikatakan bagi orang-orang yang tinggal di masjid dan menegakkan ibadah di dalamnya sebagai mu'takif dan `akif atau orang yang beritikaf.

Mengapa itikaf? Al-Alamah Ibnu Al-Qayyim mengatakan, "Disyariatkannya itikaf adalah agar berkumpulya hati kepada Allah, berkhalwat dengan-Nya, dan memutuskan (segala) kesibukan dengan mahluk, serta hanya menyibukkan diri kepada Allah semata, sehingga ia mengingat-Nya, bertafakur dalam mendapat keridaan, dan mendekatkan diri kepada Allah..."

"Hal itu dimaksudkan agar Allah bersikap lembut kepadanya pada hari kesedihan di dalam kubur, manakala sudah tidak ada lagi yang berbuat lembut kepadanya dan (manakala) tidak ada lagi yang dapat membahagiakan (dirinya), selain daripada-Nya. Inilah maksud dari itikaf yang agung itu. (Dikutip dari kitab Zadul Ma'ad Juz 2 hal.86-87).

Itikaf juga boleh dikerjakan di luar Ramadan. Dalil tentang ini sebagai berikut, Dari Ibnu Umar bahwasannya ia bertanya kepada Nabi SAW, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku pernah bernadzar pada zaman Jahiliyah (dahulu), (yaitu) aku akan beritikaf pada malam hari di Masjidilharam." Beliau SAW bersabda, "Tunaikanlah nazarmu". Maka ia (Umar) pun beritikaf pada malam harinya (HR Bukhari dan Muslim).

Ibadah itikaf memiliki beberapa kaidah dan hukum yang harus dipenuhi sebagaimana ibadah lainnya. Di antara kaidah yang harus ditepati adalah menyangkut waktu pelaksanaannya. Para ulama berbeda pendapat mengenai kapan dimulainya itikaf dan berapa lama waktunya.

Pendapat yang rajih (paling kuat) mengatakan bahwa waktu itikaf yang paling baik dimulai sesudah Salat Subuh. Hal ini berdasarkan sebuah hadis dari Aisyah, ia berkata, "Rasulullah SAW apabila hendak beritikaf, maka beliau mengerjakan Salat Subuh, kemudian masuk ke tempat itikafnya." (HR Abu Ya'la dan An-Nasa'i).

Adapun batas minimal (waktu) pelaksanaan itikaf, para ulama pun berbeda pendapat. Menurut Imam An-Nawawi di dalam kitab Al-Minhaj mengatakan, "Seseorang boleh beritikaf sesaat dalam waktu yang singkat."

Selanjutnya mengenai rukun-rukun itikaf adalah sebagai berikut: pertama adanya niat.

Karena tidak sah suatu amalan melainkan dengan niat. Sabda Rasulullah, "Setiap amalan itu hanyalah bergantung kepada niat." (HR Muttafaq alaih).

Kedua, tidak disyariatkan di tempat lain kecuali di masjid. Berdasarkan firman Allah SWT dalam surah Al-Baqarah ayat 187: Tetapi jangan kamu campuri mereka, ketika kamu beritikaf dalam masjid. (*)

Klik juga :

Masuk ke Raodah Harus Antre Dua Jam Karena Tamu Kerajaan

Kalau Punya 100 Gram Emas, Bagaimana Mengeluarkan Zakatnya?

Editor: Anita K Wardhani
0 KOMENTAR
810872 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
    Jadilah yang pertama memberikan komentar
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas