Masjid Agung Ciamis Tanpa Bangunan di Zaman Kanjeng Dalem

MASJID Agung Ciamis, yang berdiri megah di bagian barat Alun-alun di pusat Kota Ciamis, tidak hanya kelihatan anggun

Masjid Agung Ciamis Tanpa Bangunan di Zaman Kanjeng Dalem
Net
Masjid Agung Ciamis

Laporan Wartawan Tribun Jabar,  Andri M Dani

TRIBUNNEWS.COM -- MASJID Agung Ciamis, yang berdiri megah di bagian barat Alun-alun di pusat Kota Ciamis, tidak hanya kelihatan anggun, dengan arsitektur yang khas dan indah, tapi juga cantik dan menarik untuk difoto dengan disorot kamera. Sedap untuk dibidik dari berbagai sudut pandang. Apalagi dilengkapi sorot cahaya yang semarak.

Halamannya yang sejuk ditumbuhi puluhan pohon kurma dan pohon palem lainnya. Dua menara tinggi  yang berdiri kokoh  di halaman depan masjid seperti penjaga abadi kubah besar yang menjulang di atap masjid kebanggaan warga Tatar Galuh Ciamis ini.

Di balik kemegahan tersebut, ternyata  Masjid Agung Ciamis ini punya cerita dan kisah yang menarik. "Masjid ini pertama kali dibangun tahun 1882, pada masa pemerintahan bupati Galuh ke-16, Raden Adipati Koesoemahdiningrat, yang biasa disebut Kanjeng Dalem," ujar Ustaz H Wawan S Arifin kepada Tribun.

Kanjeng Dalem, yang memerintah Ciamis pada tahun 1839-1886, tidak hanya membangun loji (Gedung Negara), gedung kabupaten (otonom), dan penjara dalam rangka menata Kampung Cibatu menjadi ibu kota yang bernama Ciamis, tetapi juga membangun masjid besar di bagian ujung Alun-alun depan Gedung Negara. Masjid besar tersebut dibangun pada tahun 1882 bersamaan dengan pembangunan penjara, tak jauh dari masjid tersebut.

Pada masa pemerintahannya, Kanjeng Dalem tidak hanya membangun masjid agung, tetapi juga membangun masjid jami di tiap desa dan sekolah desa bersamaan dengan program penanaman kelapa di semua sudut desa pengganti tanam paksa (cultuur  stelsel). Masjid Agung ini dibangun di atas tanah seluas 8.500 meter persegi, dengan bangunan atap bentuk kerucut dengan tiga tingkatan. Bentuk atap tumpang, gaya khas Masjid Demak, itu mirip dengan Masjid Agung Bandung (kini Masjid Raya Bandung) saat pertama kali dibangun tahun 1812.

"Atap Masjid Agung waktu dibangun oleh Kanjeng Dalem persis atap makam Jambansari yang sekarang masih berdiri kokoh. Atapnya bentuk kerucut," kata Wawan sembari memperlihatkan dokumentasi foto  Masjid Agung Ciamis dari masa ke masa.

Saat itu bangunan Masjid Agung didominasi oleh kayu, terutama kayu jati, dengan tiang tengah yang kokoh. Namun saat Kanjeng Dalem meninggal tahun 1886, pembangunan masjid agung yang sudah berlangsung sejak tahun 1882 belum tuntas. Lalu pembangunan Masjid Agung Ciamis ini dilanjutkan oleh anaknya, Rd AA Koesoemah Soebrata, sebagai bupati Galuh ke-17.

Pembangunan masjid tersebut baru tuntas pada tahun 1902 sesuai dengan tulisan yang tercantum pada prasasti kayu yang dipasang  di pintu masuk masjid sebelah kanan yang bertuliskan: Tanggal 30 Romadhon tahoen 1319 H/10 Djanoeari tahoen 1902 M Waktoe Boepati Kanjeng Dalem Raden Aria Adipati Koesoemah Soebrata.

Arsitek pembangunan Masjid Agung Ciamis ini adalah Pangeran Radjab dan dibantu oleh ahli bangunan Alhari Joedanagara. Waktu itu masjid agung belum ada menaranya. "Sejak itu sampai sekarang masjid sudah lima kali mengalami renovasi. Sampai bentuk masjid sekarang yang sudah tidak ada lagi bentuk aslinya dari peninggalan Kanjeng Dalem," kata Ustaz Wawan.

Halaman
12
Editor: Hendra Gunawan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved