Selasa, 4 Agustus 2015
Tribunnews.com

Menunggu Azab Allah

Kamis, 16 Agustus 2012 07:25 WIB

Menunggu Azab Allah
Serambi Indonesia
Cholil Nafis

Oleh HM Cholil Nafis Lc PhD
Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail PBNU

TRIBUNNEWS.COM - TAK lagi hanya terjadi di jalan-jalan, kebrutalan sudah merangsek ke gedung-gedung perkantoran. Baik instansi pemerintah maupun swasta kerap melakukan kongkalikong praktik korupsi. Jika Nabi Muhammad pernah bersabda, fitnah lebih kejam dari pembunuhan, maka saya berpandangan korupsi itu lebih brutal daripadai tawuran.
     
Saking brutalnya, korupsi pun tak mengenal usia, strata dan kedudukan. Mulai dari kalangan sekuler sampai kalangan yang akrab dengan dunia keagamaan. Semuanya dengan brutal melakukan praktik korupsi. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah berkali-kali menangkap koruptor dan mengungkap mata rantai korupsi, tapi nyatanya tak ada kata jera.

Meski berbagai kasus telah dibongkar dan pelakunya dibui, tetap saja kasus-kasus anyar ditemukan. Korupsi sudah berlangsung sistemik dan menggurita di semua lembaga, dari pusat hingga daerah. Korupsi seperti tak pernah mati di negeri ini. Ya, terus saja hidup. Aneh, mengapa ini terjadi?

Semua koruptor itu dapat dipastikan, mereka bukanlah para ateis (orang yang tidak beragama). Mereka punya agama. Dan kita tahu, tidak ada satupun agama yang memberi imbalan pahala kepada pemeluknya yang melakukan korupsi. Semua melarang, bahkan melaknat sang pelaku. Namun nampaknya imbauan agama soal yang satu ini akan punah dengan sendirinya karena ulah pemeluknya. Semoga ini tidak terjadi.

Jika terjadi maka rusaklah negeri ini dan yakinlah bahwa azab Allah SWT. segera datang bertubi-tubi. Mengapa? Karena, korupsi adalah penampakan dari sifat tamak alias serakah. Dalam Islam, serakah dipahami sebagai sikap tidak puas dengan apa yang menjadi hak atau miliknya, sehingga berupaya meraih yang bukan haknya.
 
Muhammad Rasulullah SAW. pernah mengilurtrasikan betapa keserakahan akan mendominasi tingkah laku manusia. "Jika seorang anak Adam telah memiliki harta benda sebanyak satu lembah, pasti ia akan berusaha lagi untuk memiliki dua lembah. Dan andaikata ia telah memiliki dua lembah, ia akan berusaha lagi untuk memiliki tiga lembah. Memang tidak ada sesuatu yang dapat memenuhi keinginan anak Adam kecuali tanah (tempat kubur, yakni mati). Dan Allah akan menerima tobat mereka yang bertobat." (HR Bukhari, Muslim, Ahmad, dan Tirmidzi).

Berdasarkan hadis di atas, kita menyadari, potensi serakah atau korupsi itu ada dalam diri setiap anak adam (manusia). Karena itu kita harus pandai-pandai mengontrolnya. Nah, bulan puasa ini adalah momentum yang tepat untuk belajar mengontrol nafsu korupsi. Puasa dalam ajaran Islam seringkali dijadikan alat kontrol nafsu yang merajalela menggoda manusia dan menjerumuskannya ke dalam kubangan dosa.

Mengambil sesuatu yang bukan menjadi haknya adalah tindakan korupsi. Ini jelas tidak diperbolehkan oleh agama. Ini bukan hal baru, semua orang juga sudah tahu. Ironisnya, banyak orang bahkan berlomba-lomba untuk jadi koruptor (meskipun skala kecil).

Halaman123
Editor: Anita K Wardhani
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas