Minggu, 31 Agustus 2025

Ramadan 2019

Jamaah Alip Rebo Wage Purbalingga Tentukan Awal Ramadan Berbeda dengan Pemerintah, Baru Puasa 7 Mei

- Jika umumnya umat muslim di Indonesia mengikuti ketetapan pemerintah berpuasa Ramadan sejak Senin (6/5/2019), Jamaah Aboge Selasa.

istimewa
Pemimpin jamaah Alip Rebo Wage Aboge di Desa Onje Kecamatan Mrebet Kabupaten Purbalingga. 

TRIBUNNEWS.COM, PURBALINGGA - Jika umumnya umat muslim di Indonesia mengikuti ketetapan pemerintah berpuasa Ramadan sejak Senin (6/5/2019), Jamaah Alip Rebo Wage (Aboge) melakukan hal beda.

Jamaah yang pengikutnya Desa Onje Kecamatan Mrebet Kabupaten Purbalingga menetapkan awal Ramadan mulai Selasa (7/5/2019).

Hari Selasa kemarin mereka baru melaksanakan kewajiban berpuasa.

Penetapan kelompok ini berbeda dengan keputusan pemerintah atau kebanyakan Organisasi Masa (Ormas) Islam yang memulai puasa Ramadan pada Senin kemarin.

Pemimpin jamaah Aboge yang juga sesepuh Desa Onje Kyai Sudi Maksudi menjelaskan perbedaan penentuan awal Ramadan kelompoknya dengan pemerintah.

Baca: Apa yang Harus Dilakukan Jika Puasa Batal? Ini Empat Jenis Penggantinya Menurut Imam Ghazali

Maksudi mengatakan, penentuan Ramadan didasarkan atas perhitungan yang diyakini kelompoknya secara turun temurun.

Menurut perhitungannya, puasa Ramadan tahun ini jatuh pada hari Selasa Pahing sehingga berbeda dengan penetapan pemerintah.

Kendati beda dalam penetapan awal Ramadan, ia tak ingin kelompoknya disebut menyimpang.

Baca: Teka Teki Klaim Kemenangan Prabowo Subianto 62 Persen, Andi Mallarangeng: Dari Mana Datanya?

Sebab dia meyakini yang dilakukannya sudah sesuai dengan tuntunan kitab suci.

"Perhitungannya rumit tapi kami anggap ini sebagai perhitungan pasti. Karena dalam fiqih agama yang bisa digunakan sebagai penentuan Ramadan itu ada empat, salah satunya adalah hisab yakni perhitungan, dan kami menggunakan itu,” kata Maksudi.

Baca: PUASA SEHAT - Jika Puasa Dilakukan dengan Benar, Ini yang Terjadi Pada Tubuh di Akhir Ramadan

Maksudi yang disebut jebolan beberapa pondok pesantren ini memang tampak fasih menjelaskan dasar dan hukum Islam yang diketahuinya.

Ia bahkan mengklaim gurunya yang merupakan ulama kharismatik asal Pekalongan telah memerintahkannya dan komunitasnya untuk meninggalkan pemahaman tersebut.

Tetapi dia menolak karena pertimbangan tradisi turun menurun.

Baca: Ketika Awak Media Mencium Rambut Nabi Muhammad SAW yang Dibawa Opick, Rasanya Merinding dan Terharu

“Secara amalan kami masih tahlilan, istighosah dan lain sebagainya. Jadi tidak berbeda amalan kami,” imbuhnya.

Kepala Desa Onje, Mugi Ari Purwono mengaku tidak terganggu dengan amalan komunitas Aboge.

Baca: Usai Bikin Vlog Bareng Ririn Ekawati, Dimas Beck Banjir Doa dari Netizen

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan