Rabu, 26 November 2014
Tribunnews.com

Sekoper Dolar Palsu di Rumah Edwin

Jumat, 16 April 2010 10:40 WIB

TRIBUNNEWS.COM - Penyidikan kasus Edwin Rahadi, tersangka pembunuhan gadis Uray Qori (19), memberikan fakta mengejutkan. Polisi menemukan sepeti uang dolar AS palsu pecahan 100 dolar di rumah kedua Edwin di Jl Adi Sucipto 264.

Temuan itu diperoleh jajaran Sat Reskrim Poltabes Pontianak saat menggeledah ulang rumah milik Edwin, Minggu (11/4/2010). Awalnya, di rumah yang juga dijadikan tempat memproduksi shabu dalam bentuk pil itu, ditemukan satu peti besi aluminium.

Setelah peti dibuka, ditemukanlah uang dolar palsu yang disimpan di dalam travel bag, kantung plastik hitam, dan amplop cokelat.

Polisi belum mengetahui pasti berapa jumlah uang dolar palsu tersebut. Selain uang dolar, polisi ikut mengamankan potongan kertas hitam yang memuat bayangan gambar uang. Kuat dugaan, kertas hitam tersebut merupakan kertas film cetak untuk menggandakan dolar.

"Ini kita temukan di rumah Edwin di Adisucipto. Uangnya palsu, jenis dolar Amerika," ujar Kasat Reskrim Poltabes Pontianak, Kompol Sunario, kepada wartawan di Poltabes Pontianak, Minggu malam.

Polisi sudah melakukan pemeriksaan teliti terhadap uang tersebut. Hasilnya, uang dolar yang diduga mencapai ribuan dolar tersebut palsu.

Tribun mendapat kesempatan untuk melihat dan meraba uang tersebut. Secara tampilan fisik, bentuk uang sama seperti aslinya. Terdapat gambar Benjamin Franklin.

Namun, saat diraba, kertas yang digunakan lebih tipis dibanding kertas yang digunakan pada uang dolar asli. Uang dolar tersebut rata-rata berseri nomor seri CK 38627381 AK11.

"Uang palsu kita temukan di depan kamar bapaknya. Bentuknya dolar. Dari kertasnya sudah kelihatan jelas kalau itu palsu," jelas Sunario.

Polisi telah memeriksa Edwin terkait temuan baru tersebut.

"Menurut dia (Edwin), barang itu ditemukannya di rumah yang sama. Pas dia datang kesitu sudah ada, lalu dikumpulkan ke suatu ruangan, yakni ruangan bapaknya," ujar Sunario.

Edwin juga mengaku uang palsu tersebut tak pernah ia gunakan untuk bertransaksi sebelumnya.

Di antara lembaran dolar palsu tersebut terdapat lembaran yang bentuknya seperti uang kertas tetapi gambarnya seperti uang mainan. Di bagian atas tertulis "Rahadi Oesman, Borneo Bank".

Lalu, apa benar polisi juga menemukan dua pucuk senjata api?

"Siapa yang bilang ada senjata api. Tidak ada," tepis Kasat Reskrim Sunario. Menurut dia,  pengembangan terhadap temuan dolar AS palsu tersebut akan terus dilakukan.

Pemeriksaan Bambang
Kasat Reskrim juga menyampaikan, pada Senin (12/4) ini penyidik Poltabes akan memeriksa anggota DPRD Kubu Raya, Bambang Sridadi, yang merupakan ipar tersangka Edwin.

"Kita sudah kirimkan surat panggilan kepada Bambang. Berdasarkan surat yang kita kirimkan, waktu pemeriksaan pukul 08.30 WIB, tapi dia minta waktu pemeriksaan dilakukan sekitar pukul 12.00," jelasnya.

Seputar apa materi pemeriksaan yang akan dilakukan kepada anggota Dewan dari Kabupaten Kubu Raya itu? "Kita tak akan bertitahu dulu apa materinya. Itu rahasia pemeriksa. Lihat besok saja setelah diperiksa," katanya.

Sunario menegaskan, hingga saat ini pihaknya terus melakukan pemeriksaan terhadap para tersangka, termasuk Edwin. Beberapa bukti baru seperti sebilah pisau dan sarung bantal yang masih ada bercak darah.

Pasar Gelap
Sat Narkoba Poltabes Pontianak juga terus mengembangkan penyidikannya terhadap temuan pabrik narkoba di kediaman Edwin, dengan berkoordinasi Badan Narkotika Nasional (BNN).

"Sambil menunggu hasil pemeriksaan dari Balai Besar POM, kita sudah koordinasi dengan BNN. Hasil pemeriksaan yang dilakukan tim laboratorium BNN sudah jelas. Mereka temukan alat bukti berupa kodein di sana," jelas Kasat Narkoba Poltabes Pontianak, Kompol Raza Pahlevi, kepada Tribun, Minggu malam.

Codeine atau kodein, menurut Reza, merupakan jenis narkotika, dan dijual terbatas sebagai obat penghilang rasa nyeri. Menurutnya, bahan-bahan kimia yang digunakan oleh Edwin untuk membuat tablet shabunya positif mengandung methamphetamine.

Reza juga menjelaskan, shabu dalam bentuk tablet sebenarnya sudah lama beredar di Pontianak dan Kalbar. "Ada kecenderungan ekstasi di Pontianak culun. Ini dikarenakan yang terkandung dalam ekstasi tersebut justru Methamphetamine (MA), yang merupakan kandungan shabu-shabu. Sejatinya ekstasi mengandung Methylene Dioxy Meth Amphetamine (MDMA)," jelasnya.

Reza menjelaskan, ada kecenderungan pemilik pabrik haram tersebut melakukan eksperimen terhadap produknya. "Jadi shabu-shabu bukan hanya berbentuk kristal. Mereka memodifikasinya menjadi bentuk tablet," katanya.

Dari mana Edwin mendapatkan bahan kimia tersebut, serta ke mana saja tablet sabu hasil produksinya ia pasarkan? "Tersangka mengaku bahan-bahan tersebut ia dapat dari pasar gelap di Jakarta. Pengakuan tersangka bukan target kita, kita akan teruskan pengembangan. Langkah kita kemarin menghadirkan BNN," jelasnya.

Reza juga menambahkan, tablet shabu buah tangan Edwin dan rekan-rekannya diindikasikan telah merambah pasar narkoba Pontianak, Singkawang, dan beberapa daerah lainnya.

Reza juga menjelaskan dimungkinkan ada pihak lain yang membantu Edwin dalam memproduksi barang haram itu. "Kita juga tak percaya 100 persen kalau dia (Edwin) yang membuat. Akan kita kembangkan," katanya.
Editor: Anthonius Iwan Adhi Praja

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas