Sabtu, 20 Desember 2014
Tribunnews.com

Kisah Mbah Senin Gantungdiri Hari Senin

Selasa, 25 Mei 2010 06:41 WIB

Kisah Mbah Senin Gantungdiri Hari Senin
Istimewa
Ilustrasi
TRIBUNNEWS.COM, NGANJUK --  Lelaki tua bernama Senen (65), dukun palsu asal Desa Ketawang, Kecamatan Gondang, Nganjuk, Jawa Timur, mengakhiri hidupnya dengan tragis di sel tahanan Polsek Gondang.

Ia gantung diri menggunakan sarung, Senin (24/5/2010) setelah ditahan sejak 19 Mei 2010. Motifnya, polisi menduga, Senen mengalami depresi karena masuk bui hingga tiga kali. Mbah Senen terakhir ditahan karena menipu jutaan rupiah. Ia mengelabuhi para korbannya dengan mengaku sebagai dukun sakti yang bisa menggandakan uang dan membantu memperlancar usaha.

“Kepada korban, pelaku mengaku bisa memperlancar usaha dan menyelesaikan semua permasalahan rumah tangga. Syaratnya harus ada ritual, dan pelaku meminta uang kepada setiap korbannya,” kata Kapolsek Gondang, AKP Supriyadi.

Sementara itu, saksi yang pertama kali melihat Mbah Senen gantung diri di kamar tahan seluas 2,5 m x 2,5 m adalah Kepala SPK Polsek Gondang Bripka Sumadi. Sekitar pukul 05.45 saksi mengecek ruang tahanan yang hanya ditempati Mbah Senen.

Pertama kali ditemukan, kondisi korban duduk dengan leher terjerat sarung bermotif kotak-kotak warna coklat yang diikatkan pada jeruji besi jendela tahanan.

Pudji menjelaskan, gantung diri itu diperkirakan antara pukul 03.00 sampai 05.00. “Setiap satu jam sekali, petugas menengok tahanan. Saat ditengok pada jam 01.00, jam 02.00, dan terakhir jam 03.00 korban masih belum tidur, dan terdengar batuk-batuk,” jelas Pudji.

Menurutnya, Mbah Senen sudah tiga kali ditahan di Polsek Gondang. Pada tahun 2003, dia ditahan selama 5 bulan 15 hari karena kasus penipuan kendaraan bermotor. Setelah keluar sekitar tiga tahun lebih, korban kembali ditahan dengan kasus yang sama.

“Pada 2007 dia kembali ditahan selama 16 bulan, kasusnya tetap penipuan kendaraan bermotor dan uang,” terang Pudji Santoso. Hasil visum et repertum menunjukkan, Senen murni bunuh diri karena tidak ada tanda-tanda penganiayaan.

Tukang Tipu
Sepak terjang Mbah Senen sebagai dukun palsu yang sering menipu rupanya tersohor di kampungnya. Bahkan, semua warga Desa Ketawang sudah tidak kaget lagi ketika mendengar Mbah Senen kembali masuk bui.

“Orang sekampung sudah tahu semua, tapi heran saya, kok masih ada orang luar yang percaya dan menjadi korbannya,” kata tetangga korban, Sutiono.

Sutiono menceritakan, korban yang tinggal hanya dengan istrinya, Sarni, dan belum dikaruniai anak itu juga terkenal sebagai seorang dukun yang bisa menggandakan uang. “Kerjanya ya itu, kalau nggak gitu keluyuran dari warung ke warung,” ucapnya.

Sutiono mengisahkan, jalan aspal di kampungya juga dibangun dari hasil penipuan. Dengan gaya bicara yang meyakinkan, korban menyuruh kontraktor untuk mengaspal jalan desanya. Janjinya, dibayar kemudian hari.

“Malah dulu pernah nanggap Anom Suroto, pada hari H dalangnya nggak datang karena belum dibayar. Lalu dia menyuruh orang untuk menyerahkan uang ke Anom dan ternyata setelah dibuka isinya daun,” jelasnya.

Hal serupa juga diungkapkan teman dekat korban, Tarsiman (63). Menurutnya, korban memang sering mengajak teman-temannya makan di warung. Setiap kali makan, selalu dia yang membayar. “Saya juga nggak tahu dia dapat uang dari mana, tapi sering ngebosi teman-temannya,” terangnya.

Sehari sebelum tewas, Tarsiman menjenguk Senen di tahanan. Saat itu, dia tidak melihat keanehan pada diri korban. Hanya, Senen bilang bahwa keesokan harinya akan pulang. “Yang dimaksud pulang itu pulang kemana saya juga tidak tahu, saya kira ya pulang ke rumah, eh ternyata malah mati,” lanjutnya.

Senen juga sempat bilang, istrinya sudah diberi tahu bahwa dirinya akan pulang. Untuk itu, dia korban meminta istrinya membuat jenang (bubur beras merah) untuk syukuran di rumah. “Saya juga nggak nyangka, ternyata yang dimaksud pulang itu pergi selamanya,” terang Tarsiman. (Kompas/Samsul Hadi)
Editor: Tjatur Wisanggeni
Sumber: Kompas.com

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas