Senin, 24 November 2014
Tribunnews.com

Harga Trenggiling Melangit untuk Bahan Baku Shabu

Senin, 31 Mei 2010 07:31 WIB

Laporan Wartawan Tribun Jambi

TRIBUNNEWS.COM, JAMBI
-  Pelaksana Tugas Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi Didy Wurjanto kepada Tribun, Kamis (27/5/2010) mengatakan, manfaat satwa trenggiling (manis javanicus) sangat banyak. Semua anggota tubuh yang ada pada satwa pemakan semut dan serangga itu multiguna. Belakangan satwa yang dilindungi Undang-Undang Nomor 5 tahun 1990 tersebut diburu untuk dikomersilkan.

Dikatakan Didy, berdasarkan sebuah penelitian ternyata sisik trenggiling bisa digunakan sebagai bahan baku pembuatan shabu-shabu. Karena pada sisik trenggiling terdapat bahan aktif tramadol HCL yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk membuat psikotropika seperti sabu, bahkan morphin.

"Hewan yang hidup di hutan dataran rendah yang lembab itu menjadi incaran para pemburu liar," jelas Didy.

Menurut Didy, daging trenggiling menurut sebagian orang cukup lezat dan gurih, seperti daging bebek. Khasiat dagingnya untuk terapi bagi penderita jantung, paru-paru dan asma (bengek).
Satu sisik trenggiling bisa dibanderol 1 dolar AS  atau Rp 9.000. Sedangkan harga seekor trenggiling dengan berat normal 2-4 kilogram bisa mencapai Rp 2 juta - Rp 4 juta (di pasaran internasional). Pedagang pengumpul biasanya membeli trenggiling Rp 100 ribu - Rp 300 ribu per ekor.

"Bisnis trenggiling memang sangat menggiurkan. Kalau dulu, satwa ini nyaris tidak dilirik, bahkan dibiarkan saja bila ditemukan dalam keadaan mati. Sekarang justru diburu untuk dikomersilkan," ucapnya.

"Khasiat  lainnya dari sisik trenggiling, sambungnya,  bisa meningkatkan gairah seksualitas kaum laki-laki, dan bahan baku untuk kosmetik," imbuh alumni Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada yang menyelesaikan S3 di New Zealand University.

Terpisah,  Kasubag Tata Usaha BKSDA Agung mengatakan, pihaknya sudah menurunkan  petugas Ruswendi mendampingi Polairud Polda Jambi. Pada prinsifnya BKSDA akan membantu Polairud selagi dibutuhkan. "Kita sudah adakan komunikasi, ternyata Polairud yang menanganinya. Namun demikian kita siap sewaktu-waktu dibutuhkan untuk saksi ahli," tutur Agung kepada Tribun.

Terhadap trenggiling yang masih hidup menurut Agung sedang diupayakan untuk dilepaskan ke alam bebas. "Untuk sementara kita titipkan di Taman Rimbo, sebelum ada kepastian untuk melepasliarkannya," ucapnya.  

Seperti diberitakan Tribun Jambi,  Atong, bos sindikat penjualan trenggiling (manis javanicus)  asal Palembang diduga  menjadi otak penyelundupan trenggiling antar negara. Upayanya untuk menjual trenggiling ke Malaysia melalui  melalui Kuala Tungkal tercium polisi.

Kapal patroli yang mengangkut 8 petugas gabungan Polairud Polda Jambi dan Kuala Tungkal menyergap speeadboat yang hendak menuju penampungan trenggiling di Tembilahan, Riau, Rabu (27/5/2010). Sebanyak 72 ekor trenggiling, belakangan tinggal 60 ekor yang hidup disita dari dalam speedboat. Polisi juga mengamankan  Riko (30), warga Riau dan Ridwan (31) warga Batam.

Bisnis trenggiling memang menggiurkan.  Di pasaran internasional,  daging trenggiling  yang rata-rata mencapai berat 5-7 kilogram dihargai Rp1-3 juta/kg. Sementara untuk sisik, harga yang paling murah mencapai Rp360.000 / kg.

Dari hasil penangkapan kemarin, bos trenggiling urung meraup untung dari penjualan 72 ekor trenggiling yang bisa mencapai Rp 685 juta dengan rincian untuk daging 72 ekor trenggiling seberat  504 kg (satu trenggiling berat 7 kg) dihargai Rp 504 juta. Sementara untuk sisik bisa mencapai Rp 181 juta.

Sumber Tribun menyebutkan trenggiling yang diduga berasal dari Palembang ini rencananya akan dibawa menuju  Tembilahan, selanjutnya dikirim ke Bengkalis sebelum diselundupkan  ke negara tetangga. Menurut sumber,  bos  trenggiling asal Palembang, Atong merupakan pemain lama yang telah menjadi target operasi polisi. Selama ini, Atong  telah beberapa kali melakukan penyelundupan. Selama ini, ia selalu lolos dari intaian petugas.

Namun Direktur Polairud Polda Jambi AKBP Bambang Iryanto saat dikonfirmasi mengatakan
belum mengetahui pemilik dari trenggiling tersebut. Berdasarkan pemeriksaan sementara, polisi hanya mengamankan dua kurir.

 "Waktu ditangkap di Tungkal, dari 72 ekor trenggiling, lima diantaranya sudah mati," katanya.
Dari pemeriksaan awal, Bambang mengatakan, keduanya hanya bertugas mengantarkan trenggiling-trenggiling tersebut. Satu orang bertugas menjaga kesehatan trenggiling, satu lagi bertugas menyetir speedboat yang dijadikan sarana transportasi menuju Kabupaten Bengkalis. "Dari hasil penyidikan, keduanya hanya bertugas mengangkut trenggiling-trenggiling tersebut," kata Bambang.

 Bambang menambahkan dari penyidikan sementara, Kuala Tungkal menjadi  salah satu titik  peredaran transaksi trenggiling di Sumatera. Namun, ia masih belum bisa memastikan apakah Tungkal dijadikan tempat pemberangkatan atau penampungan trenggiling tersebut.
"Namun, dari penyidikan, kedua tersangka yang kini mendekam di ruang tahanan Kantor Direktorat Polairud itu, berangkat di Tungkal, tapi bukan di tempat umum seperti pelabuhan. Keduanya berangkat dari tempat khusus di Tungkal. Selain itu, dari mana saja trenggiling-trenggiling tersebut, kami belum begitu tahu pastinya," paparnya.

Kepala Dinas kehutanan Tanjabbar, Dadang Suhendar memastikan trenggiling itu tidak berasal dari Tanjabbar. "Tidak ada habitat trenggiling di Tanjabbar," katanya.

Pemilik gudang tempat bongkar muat trenggiling di Kuala Tungkal  membantah keterlibatanya dalam penyelundupan tersebut. Ia berdalih tidak mengetahui barang apa yang dibongkar.
""Boleh bongkar, dengan bayaran Rp 1 juta, tapi saya tidak tau berapa banyak dan jenis barangnya, karena gudang  itu juga dijadikan jasa  bongkar," katanya.
Editor: Hasiolan Eko P Gultom
Sumber: Tribun Jambi

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas