Joged Bumbung Seronok Gemparkan Bali

Video amatir unggahan di YouTube kembali bikin gempar. Warga Bali dihebohkan dengan video joged Bumbung

TRIBUNNEWS.COM, DENPASAR -  Video amatir unggahan di YouTube kembali bikin gempar.
Warga Bali dihebohkan dengan video joged Bumbung yang penarinya berperilaku asusila di YouTube. Video ini dianggap telah melecehkan budaya Bali.


Belum lama ini warga Bali dihebohkan video para gigolo di Pantai kuta. Kini munculnya video Joged Bumbung porno kembali mengusik mereka.
Dalam video itu, sang penari yang mengenakan pakaian tarian khas Bali bergaya seronok bak penari porno.
Tarian ini diduga dimainkan dari kelompok tari di sebuah desa di Buleleng.
Belum diketahui secara pasti waktu perekaman gambar dan diunduh ke situs YouTube.
Gambar berdurasi lebih dari dua menit ini sudah diblokir dan tidak bisa lagi diputar di YouTube.


Kepala Dinas Kebudayaan Bali, Ida Bagus Sedawa, mengambil sikap dengan penyebaran video porno joged Bumbung.
Kasus ini sudah diserahkan ke pihak kepolisian.
Dia mengaku prihatin dan menyayangkan peredaran video porno tersebut karena dapat melecehkan seni budaya Bali.

Peredaran video porno itu pun kini sudah merambah luas. Pedagang di pinggir jalan bahkan menjual VCD joged Bumbung porno tersebut.

Sekadar diketahui, Joged Bumbung merupakan tari pergaulan yang sangat populer di Bali. Tarian ini memiliki pola gerak yang bebas dan dinamis, diambil dari Legong maupun Kekebyaran.
Umumnya dilakukan berpasangan. Tarian ini juga membutuhkan kelincahan gerak tubuh dan mata dari penarinya, dengan sesekali penarinya bergoyang ala dangdut.
Joged Erotis Nunukan 

Ternyata penonton tarian erotis yang digelar di sebuah tempat karaoke di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, kebanyakan anak usia sekolah.

Saat Kepolisian Sektor Nunukan bersama Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) menggerebek tempat itu, puluhan anak usia sekolah tengah menikmati tarian erotis.

Di antara mereka bahkan ada yang datang bersama pasangannya.

“Banyak anak di bawah umur dan anak-anak usia sekolah kita dapati waktu penggerebekan semalam. Ada juga yang kedapatan berpasangan. Mereka merekam aksi penari itu kemudian menunjukkan kepada rekan-rekannya di sekolah," kata Kepala Satpol PP Nunukan, Robby Nahak Serang, Sabtu (23/5/2015).

Untuk menyaksikan tarian erotis yang digelar di sebuah tempat karaoke di Jalan Cut Nya Dien tersebut, penonton cukup membayar uang masuk Rp 20.000.

Mereka kemudian harus memesan meja dengan tarif yang beragam.

Tarian erotis biasanya digelar setelah tengah malam.

“Tariannya ditampilkan di atas pukul 12 malam. Tariannya memang disajikan di situ bagi pengunjung. Nanti usai menari masih dengan pakaian yang minim, mereka (penari) mengedarkan nampan berisi minuman keras, terserah pengunjung kalau mau nyawer. Biasanya Rp 50.000 untuk satu sloki,” kata salah seorang anggota Satuan Polisi Pamong Praja.

Robby Nahak mengatakan, tempat itu langsung ditutup.

"Sejak tadi malam sudah ditutup. Yang lainnya juga sudah ditutup, bukan hanya OK karaoke. Semua THM (tempat hiburan malam) yang tidak berizin (ditutup). Makanya, saya imbau yang tidak punya izin, tutup sendirilah,” kata Robby Nahak.

Dalam penggerebekan semalam, polisi Nunukan mengatakan, tiga penari erotis diamankan.

Para penari itu didatangkan dari Jakarta dan rencananya akan melakukan pentas di tempat karaoke itu selama dua bulan. Dari pengakuannya, mereka mengatakan baru seminggu berada di Nunukan.


Editor: Tjatur Wisanggeni
Sumber: Kompas.com
Tags
Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2016
About Us
Help