• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Selasa, 22 Juli 2014
Tribunnews.com

66 Pasien RS Jiwa di Malang Korban Putus Cinta

Kamis, 23 September 2010 21:43 WIB
66 Pasien RS Jiwa di Malang Korban Putus Cinta
ist
Ilustrasi
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Sugiyarto

TRIBUNNEWS.COM, MALANG -
Sebanyak 66 pasien di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Lawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, mengalami gangguan jiwa akibat putus cinta atau faktor asmara.

"Dari 66 pasien tersebut, mayoritas adalah pasien yang masih berusia muda yakni antara 20 hingga 30 tahun," kata Kepala Humas RSJ Lawang, Hery Juwanto, di kantornya, Kamis (23/9/2010).

Pasien-pasien lain, katanya, masuk RSJ karena faktor ekonomi serta pemutusan hubungan kerja atau PHK. Adapun jumlah total pasien hingga Bulan September 2010 ada 660 pasien dari 700 pasien yang menjadi kapasitas RSJ Malang.

"Dari data itu, sekitar 60 persennya adalah pasien yang masuk karena faktor ekonomi, 30 persen lainnya disebabkan faktor susah mencari kerja, dan 10 persen atau 66 orang masuk karena putus cinta," kata Hery

Asal para pasien tersebut, mayoritas dari kawasan Malang Raya -meliputi Kota Batu, Kota Malang, dan Kabupaten Malang. Sisanya, para warga asal 31 kabupaten dan kota di Jawa Timur. "Dari kawasan Malang Raya sebanyak 30 persen, sisanya dari 31 kabupaten dan kota di Jatim," katanya.

Menanggapi permasalahan putus cinta tersebut, pengamat sosial dari Malang, dr Limas Sutanto, mengatakan hal itu dikarenakan tidak adanya lima kekuatan kebaikan dalam diri kaum muda saat ini. Ia menjelaskan, lima kekuatan kebaikan tersebut meliputi kekuatan sikap, disiplin tinggi, bisa berintegrasi dengan orang lain, menciptakan bidang baru, dapat melaksanakan tugas dengan baik dan mampu berkomunikasi atau bekerjsama dengan orang.

"Jika setiap manusia mempunyai lima kekuatan kebaikan tersebut, maka mereka tidak perlu sakit hingga masuk rumah sakit jiwa," kata, Limas yang juga dosen Universitas Negeri Malang.

Menurut dia, untuk menghindari sakit jiwa, yang paling utama diperlukan setiap orang adalah mampu berkomunikasi dan bekerja sama dengan orang lain. "Dengan komunikasi, maka jika ada persoalan, seseorang tersebut tidak perlu merasa terbebani sendiri dan mampu berbagi," katanya.(*)
Editor: Juang Naibaho
Sumber: Surya
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas