Isu Gempa Dahsyat

Prof Damsar: Harusnya Pemerintah Lebih Terbuka

Prof DR Damsar, menyebut kepanikan warga muncul akibat tak adanya keterbukaan

Prof Damsar: Harusnya Pemerintah Lebih Terbuka
shutterstock
ilustrasi
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Harismanto

TRIBUNNEWS.COM, PADANG – Sosiolog dari Universitas Andalas (Unand), Padang, Sumatera Barat (Sumbar), Prof DR Damsar, menyebut kepanikan warga muncul akibat tak adanya keterbukaan informasi kepada publik. Padahal, jika informasi itu disampaikan secara bijak dan terbuka kepada publik melalui media, maka warga akan bisa memahaminya.

“Inikan akibat warga menerima informasi sepotong-sepotong, dari mulut ke mulut, lalu akhirnya beredar via sms. Wajar saja jika kemudian ada penumpang gelap dan orang-orang yang tak bertanggungjawab yang ingin memperkeruh suasana demi kepentingan tertentu,” kata Damsar, Kamis (25/11/2010).

Contonya, kata Damsar, beberapa hari yang lalu istrinya menyebut Direktur RSUP M Jamil Padang telah mengumpulkan semua karyawannya. Saat itu disampaikan, akan ada bencana gempa dan tsunami di Sumbar, khususnya Padang, sehingga butuh kesiapan.

Lalu disampaikan, kata Damsar, jika terjadi itu, maka operasional rumah sakit harus tetap jalan. Rumah sakit darurat nanti berpusat di RS Jiwa Ulu Gadut, Indarung. Seluruh karyawan diminta waspada dan siaga.  “Istri saya yang bekerja di sana dan sejumlah karyawan lain, jelas panik mendengarnya. Saya saja sampai merinding mendengar cerita itu. Padahal, ternyata itu cuma untuk mitigasi bencana. Tapi karena tak disampaikan secara bijak dan terbuka, maka hasilnya kepanikan,” ungkap Damsar.

Seharusnya, kata Damsar, pihak RSUP M Jamil Padang, menggelar dulu jumpa pers dan menyampaikan akan ada kegiatan mitigasi bencana kepada karyawan. Sehingga, ketika kegiatan itu dilaksanakan, karyawan dan warga lain yang mengetahuinya tak akan salah paham.

“Jadi, wajar saja jika ada sms gelap dan isu macam-macam karena informasi yang beredar itu sepotong-sepotong. Ke depan, pemerintah daerah harus menyikapi ini secara arif dan terbuka. Publik kan berhak tahu, apalagi yang menyangkut nasib mereka,” ucap Damsar.

Ketika dikonfirmasi, Humas RSUP M Jamil Padang, Gustafianov, mengakui ada kegiatan mitigasi bencana oleh direktur RSUP M Jamil Padang kepada seluruh karyawan. Menurutnya, kegiatan Hospital Disaster Plan itu adalah instruksi Kementrian Kesehatan. “Itu kegiatan biasa, bukan karena akan ada gempa dan tsunami seperti isu sms menyesatkan yang beredar di kalangan masyarakat,” kata Gustaf.

Dalam kegiatan Hospital Disaster Plan yang berlaku untuk seluruh kemungkinan bencana yang akan terjadi, katanya, dibentuk Tim Kesehatan Tanggap Bencana yang standby 24 jam selama 365 hari. Tim ini langsung bergerak nanti kalau terjadi bencana tanpa harus menunggu perintah. “Nantinya, rumah sakit darurat di RS Jiwa Ulu Gadut di Indarung. Sedangkan kegiatan ini, sebelumnya pernah digelar di RS Sanglah Bali,” ungkap Gustaf.

Berdasarkan penelusuran Tribunnews, isu itu berkembang luas dan menimbulkan kepanikan warga setelah beredar sms yang menyesatkan, berisi “Dari hasil penelitian pakar gempa Jepang, di dasar laut Mentawai tepatnya di lokasi celah Megatrust pascagempa Mentawai kemarin, ternyata celah yang berenergi sangat besar tersebut sudah sangat labil untuk patah dalam waktu dekat ini. Bahkan saat ini Kota Padang sudah menetapkan status Siaga, dari H-3 dan H+3 dari tanggal 25 November 2010. Tanggal tersebut bertepatan dengan bulan purnama/gravitasi  bumi terhadap bulan sejajar dengan Planet Venus. Perkiraan gempanya nanti akan sangat kuat sekali sampai 11 SR dan 5 menit, setelah itu langsung diikuti Tsunami besar. Tolong disebarkan. Pesan ini ditujukan untuk Direktur RSUD Padang.

Penulis: Harismanto
Editor: inject by pe77ow
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved