Pengungsi Merapi Dituduh Jarah Minuman Ringan

Ini Lho Tayangan Pengungsi Ambil Minuman yang Kontroversi

Inilah video tayangan program berita televisi yang terkait dengan penjarahan pemukiman warga pengungsi Merapi.

Hengky tak ditahan polisi karena alasan belum dewasa meski sempat menjalani pemeriksaan. Namun, nasib berbeda dialami tujuh Warga Desa Singlar lainnya. Mereka telah meringkuk di penjara selama 11 hari sejak 24 November silam atas tuduhan melakukan penjarahan.

"Dalam pemeriksaan saya ditanya barang apa saja yang saya ambil," kata Hengky menjelaskan soal pemeriksaan yang dilakukan Kepolisian.

Pemuda yang hanya lulus SMP tersebut menuturkan, apa yang sejatinya terjadi berbeda dengan apa yang disiarkan secara luas oleh media. Ia bersama warga lainnya saat itu tengah kerja bakti.

"Bersama sejumlah anggota TNI, Brimob, dan Tagana, kami membakar bangkai ternak yang sudah membusuk. Karena kehausan dan tidak ada minuman, kami membuka toko milik Pak Maridi. Saya ambil satu minuman ringan dalam gelas plastik merek Ale-ale," ujar Hengky.

Saat itu, lanjut Hengky, secara kebetulan ada wartawan sebuah televisi yang berkantor di Jakarta mengambil gambar ketika sejumlah pengungsi sedang mengambil makanan dan minuman di toko milik Maridi alias Rumi.

"Wartawan itu menyuruh kami mengulang kejadian untuk diambil gambarnya. Karena tidak tahu maksudnya, kami menurut saja," kata Hengky.

Pengambilan gambar tersebut naik tayang di televisi, Minggu, 21 November, dalam acara Topik Pagi di stasiun televisi ANTV. Pun, narasi dalam tayangan itu menggambarkan kejadian berbeda dengan apa yang dituturkan tadi oleh Hengky.

Wakil Kepala Kepolisian Daerah (Wakapolda) Daerah Istimewa Yogyakarta Komisaris Besar Tjiptono beberapa waktu lalu juga mengatakan ada plintiran berita televisi tentang penyelamatan barang menjadi penjarahan.

“Mereka warga setempat yang diajak oleh relawan dari Klaten untuk kerja bakti, karena kehausan mereka membuka toko milik salah satu warga tanpa ijin, tetapi datang wartawan TV yang menyuruh untuk melakukan lagi, jadi disetting, tapi di berita jadi penjarahan,” katanya .

Namun pihak redaksi stasiun televisi ANTV melalui Pimpinan Redaksi, Uni Lubis membantah pernyataan Wakapolda tersebut. Menurut Uni, di gambar menunjukkan ada pembukaan paksa sebuah warung. Sekitar delapan orang membuka paksa rolling door sebuah warung dengan linggis (parang).

Halaman
12
Editor: Hasiolan Eko P Gultom
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help