Raja Muda Banjar Dinobatkan Hari Ini

MINGGU (12/12/2010) ini adalah hari bersejarah bagi Kalimantan Selatan (Kalsel).

Raja Muda Banjar Dinobatkan Hari Ini
BANJARMASIN POST
Raja muda yang diduduki Pangeran H Khairul Saleh
Laporan wartawan Banjarmasin Post

TRIBUNNEWS.COM, - MINGGU (12/12/2010) ini adalah hari bersejarah bagi Kalimantan Selatan (Kalsel). Kesultanan Banjar yang sudah 150 tahun terendam terangkat lagi.
   
Kebangkitan itu ditandai oleh penobatan raja muda yang diduduki Pangeran H Khairul Saleh di Mahligai Sultan Adam, Martapura, Banjar. Para zuriah dan tamu baik dari dalam dan luar negeri serta perwakilan Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN) menjadi saksi gelaran budaya ini.
   
Penganugerahan gelar raja muda tentu menambah beban bagi Khairul yang kini menjabat bupati Banjar. Dia harus menjadi pelopor  upaya pelestarian budaya Banjar. Ini bukan tugas yang ringan. Dia perlu dukungan baik dari masyarakat, pemerintah dan keluarga.
   
Kesiapan mental tak hanya ditanggung Khairul tetapi juga sang istri, Hj Raudhatul Jannah. Sebagai istri raja muda, Raudhatul juga akan banyak terlibat dalam upaya pelestarian budaya. "Saya telah menyiapkan mental dan rohaniah untuk mendampingi Bapak," katanya kepada Banjarmasin Post, kemarin.
   
Ibu dua putri ini mengaku agak cemas bercampur haru saat mendampingi suaminya menjalani tahapan prosesi sebelum dinobatkan sebagai raja muda. Terlebih ketika Khairul menjalani prosesi badudus (mandi-mandi), Jumat (10/12/2010).
   
"Alhamdulillah, prosesi badudus sudah selesai. Ini bisa diartikan sebagai kesiapan rohaniah Bapak untuk menyandang gelar raja muda," ucapnya.
   
Menyinggung perannya setelah sang suami menjadi raja muda, Raudhatul menegaskan akan selalu mendukung upaya kesultanan untuk menghidupkan dan melestarikan kebudayaan Banjar. "Sebagai bagian dari lembaga kekerabatan, saya akan mendukung sepenuhnya dan memberikan sumbangsih baik melalui pemikiran maupun yang lainnya," katanya.
   
Bagaimana soal panggilan? "Saya tidak terlalu mempermasalahkan hal itu, yang penting bisa mendampingi Bapak. Memang  ada beberapa raja, tamu dari luar daerah, yang memanggil saya dengan sebutan ibu ratu. Saya tidak mempermasalahkan panggilan atau sebutan itu, silakan saja," katanya.
   
Beberapa hari sebelum penobatan, Raudhatul telah menyiapkan pakaian yang hendak dikenakan. Rencananya, dia mengenakan kebaya panjang dengan warna kuning. Pakaian ini menyesuaikan dengan pakaian kebesaran sang suami yang berwarna serbakuning. "Mirip dengan kebaya getang (pakaian adat Banjar). Namun ada modifikasi sedikit," katanya.
   
Untuk putri bungsunya, Gusti Rima, telah disiapkan baju layang yang merupakan pakaian adat Banjar yang biasa dikenakan oleh orang yang baru menginjak remaja.
   
Lantas bagaimana dengan putri sulung, Gusti Dhia Hidayat? Ternyata dia tidak bisa mendampingi orangtuanya. "Dhia tidak bisa menyaksikan prosesi penobatan ayahnya karena sedang kuliah di Singapura," katanya.

Editor: inject by pe77ow
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved