• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Rabu, 30 Juli 2014
Tribunnews.com

Ampun! PSK Hamil 8 Bulan Masih Layani Tamu

Rabu, 16 Maret 2011 08:03 WIB
Ampun! PSK Hamil 8 Bulan Masih Layani Tamu
surya/miftah faridl
PSK HAMIL - Polisi berdialog dengan seorang PSK hamil tua yang terjaring dalam razia besar-besaran oleh Polrestabes Surabaya, Senin (14/3).

TRIBUNNEWS.COM - Razia besar-besaran yang dilakukan anggota Satuan Sabhara Polrestabes Surabaya, Senin (14/3), mungkin menjadi pengalaman tak pernah dilupakan oleh seorang Indah. Perempuan 29 tahun itu terjaring polisi saat menunggu pria hidung belang di kawasan Jembatan Ngagel BAT.

“Ini pengalaman pertama saya dalam kondisi seperti ini,” ujar Indah saat ditemui di Mapolrestabes, Selasa (15/3/2011).

Ya, Indah yang akrab disapa Anis itu, saat ini tengah hamil tua. Usia kehamilan pekerja seks komersial (PSK) tersebut bahkan sudah memasuki delapan bulan.

Dengan kondisi tersebut, Anis ternyata masih setia melayani tamu. Memang keterlaluan. Namun, perempuan asal Jember itu mengaku tidak memiliki cara lain untuk memenuhi kebutuhannya selama masa kehamilan dan persalinan yang sudah tinggal menghitung hari.

“Kalau tidak kerja, saya dapat uang dari mana. Setiap malam, saya tetap melayani tamu,“ tuturnya.

Anis mengaku sangat menyayangi calon bayinya. Karena itu, dia tidak melakukan aborsi. “Saya sangat berhati-hati saat melayani tamu. Saya tidak ingin hal-hal yang tidak diinginkan terjadi pada kandungan saya. Buat apa dapat uang kalau anak saya ini akhirnya celaka. Saya tidak mau dia kenapa-napa,” ucap Anis seraya membelai perutnya yang sudah membesar.

Di Surabaya, Anis bekerja melalui seorang mucikari bernama Mbok Na. Di usianya yang relatif muda itu, Anis memang menjadi primadona di antara PSK-PSK lain yang biasa mangkal di sekitar Ngagel BAT.

Para pemuas pencari “cinta semalam” di kawasan itu, biasa mematok tarif Rp 100.000 – Rp 150.000. Namun, karena lokasinya yang tak lazim, yakni di bantaran sungai, maka hanya kalangan terbatas-lah yang tahu di sana ada PSK mangkal.

Saat ditanya siapa bapak dari bayi yang dikandungnya itu, Anis hanya senyum-senyum saja. Dia tidak mau terbuka perihal siapa lelaki yang sudah menghamilinya.

Malah, sikap malu-malunya itu mengundang celoteh beberapa temannya yang ikut terjaring.

“Wah sing metengi wong akeh iku. Dadine anake wong akeh pisan (Wah, yang menghamili itu orang banyak. Jadi, anak itu punya bapak banyak),” seloroh salah satu teman Anis.

Mendengar celoteh itu, Anis malah tertawa. Dia menganggap ucapan teman-temannya itu sudah biasa didengarnya. “Sttt….wes ojo ngomong ae (sudah jangan bicara saja),” sahut Anis.

Kelak setelah melahirkan, Anis bertekad merawat dan membesarkan anaknya itu. Dia berharap, suatu saat bisa berhenti dari pekerjaannya menjadi PSK dan benar-benar menjadi ibu yang baik bagi anaknya.

“Siapa sih yang mau jadi PSK, Mas. Kalau nggak terpaksa, saya juga tidak mau. Saya butuh uang, itu saja. Apalagi dalam kondisi hamil tua seperti ini,” ujar Anis dengan suara lirih.

Anis memang menjadi ‘bintang’ dari puluhan PSK yang terjaring. Kondisi perutnya yang membuncit, mengundang perhatian banyak polisi, termasuk Kasubag Humas Polrestabes Surabaya AKP Suparti.

Mantan Kapolsek Pabean Cantikan itu sempat mendatangi Anis dan mengajaknya berbincang.

“Sudah ya Nduk, jangan diulangi lagi. Cari nafkah yang halal saja untuk anakmu. Jangan jadi PSK lagi. Kasihan anak yang kamu kandung itu,” ujar Suparti menasihati.

Mendengar nasihat itu, Anis hanya bisa menundukkan kepala.

Anis terjaring razia bersama 21 PSK serta 16 gelandangan dan pengemis. Mereka terjaring dalam sebuah razia serentak yang digelar di Jl Gubeng, Tunjungan, Jagir, Pasar Wonokromo, Margomulyo, Panjang Jiwo, Tunjungan, dan Panglima Sudirman. Polisi mengerahkan truk untuk mengangkut ‘buruannya’ itu.

Razia ini dilakukan polisi sebagai respons dari keresahan masyarakat terkait semakin banyaknya PSK yang beroperasi di jalanan.

“Kami akan semakin intensif melakukan razia penyakit masyarakat,” ujar Kasat Sabhara Polrestabes Surabaya, AKBP Iwan Setyawan.

Dalam razia kemarin, Iwan memang tidak menginstruksikan anak buahnya untuk berkonvoi dari satu lokasi ke lokasi yang lain. Dia sengaja memecah anggotanya menjadi beberapa kelompok yang langsung menyisir lokasi yang sudah ditentukan.

Hasilnya, banyak gepeng dan PSK yang terjaring karena sebelumnya tidak menyangka ada razia. “Selanjutnya mereka kami serahkan ke Lingkungan Pondok Sosial (Liposos) di Keputih untuk dilakukan pembinaan,” tandas Iwan.

Editor: Gusti Sawabi
Sumber: Surya
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
1 KOMENTAR
96346 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
  • pak RT-Rabu, 16 Maret 2011 Laporkan
    kl cuma ngasi nasehat anak smu jg bsa pak...
    Kasi solusi jalan keluar, misal jd pembantu bapak e aja di rumah
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas