Kamis, 27 November 2014
Tribunnews.com

Bibir Balita Ini Malah Kian Parah Pasca Operasi

Kamis, 17 Maret 2011 11:24 WIB

Bibir Balita Ini Malah Kian Parah Pasca Operasi
kompas.com
Dwi Zahrotul Sito

TRIBUNNEWS.COM - Maksud hati menyembuhkan bibir sumbing, agar kelak bisa hidup seperti orang lain. Namun balita Dwi Zahrotul Sito ini justru semakin malang nasibnya. Bayi berusia 7 bulan penderita bibir sumbing ini diduga menjadi korban malpraktik.

Pascaoperasi di Rumah Sakit Sunan Kalijaga Demak, bayi malang putri pasangan Sukari dan Dewi Nur Aini warga desa Kalianyar Kecamatan Wonoslam Demak , Jawa Tengah tersebut bukannya sembuh. Robekan pada bibirnya malah bertambah parah, dan ia hanya bisa menangis kesakitan.

Operasi bibir sumbing yang dilakukan di RS milik Pemerintah Kabupaten Demak pada Jumat pekan lalu tersebut diduga gagal. Sebab, pada minggu lalu semua jahitan lepas, sehingga bibirnya terlihat semakin robek. Orang tua Dwi terpaksa membawa pulang paksa anaknya, karena merasa tidak puas dengan pelayanan rumah sakit.

Dewi Nur Aini ibunda sang bayi menuturkan, operasi yang dilakukan pada anaknya hanya merekatkan dua tepi bibir atas yang berlubang. Penyambungan dilakukan dengan cara menyumpal lubang tersebut dengan gumpalan daging yang menempel di ujung hidung.

Dan setelah dioperasi, lubang hidung menjadi sangat kecil. Sementara mulutnya juga terlihat menyempit. Oleh dokter yang mengoperasi, Dwi diijinkan pulang pada hari minggu atau dua hari setelah operasi.

Namun pada hari yang sama, tiba-tiba dari bekas jahitan pada bibir Dwi keluar banyak darah. Setelah diperiksa, ternyata semua jahitan terlepas.

Oleh pihak rumah sakit, Dewi Nur Aini disarankan untuk mengoperasi bibir Dwi  untuk kedua kalinya pada hari Selasa lalu. Namun saran tersebut ditolak, karena pihak keluarga trauma atas kegagalan operasi tersebut.

Dewi dan suaminya merasa telah dipermainkan oleh pihak rumah sakit karena operasi anaknya tidak ditangani secara serius. "Bibir sumbing yang dialami Zahra mestinya dilakukan operasi plastik dengan cara penambalan bukan hanya sekedar menjahitnya," keluhnya.

Lebih lanjut Dewi menambahkan, meski operasi anaknya dibiayai oleh dana Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda), namun ia masih dikenakan biaya tambahan obat sebesar Rp.141.000 . Sebagai keluarga miskin, biaya obat sebesar itu dirasa Dwi terlalu berat, apalagi suaminya tidak mempunyai pekerjaan tetap.

Sementara itu, Susi Alifah anggota Komisi D DPRD Demak, saat dimintai keterangan terkait dugaan malpraktik mengatakan, pihak rumah sakit telah melakukan kesalahan karena terlalu berani melakukan operasi pada kasus bibir sumbing yang tergolong parah.

Jika memang tidak mampu semestinya dirujuk ke rumah sakit yang lebih lengkap baik peralatan maupun sumber daya manusianya. "Rumah sakit juga salah kalau kasusnya berat begini. Mengapa dipaksakan operasi? "katanya.

Editor: Gusti Sawabi
Sumber: Kompas.com

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas