• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Senin, 1 September 2014
Tribunnews.com

Mantranya Ngawur, Hasilnya Rp 110 Juta

Sabtu, 2 April 2011 09:47 WIB
Mantranya Ngawur, Hasilnya Rp 110 Juta
SURYA
EMAS PALSU - Polisi memperlihatkan emas batangan palsu di Polsek Asemrowo, Jumat (1/4), yang digunakan tersangka untuk menipu korbannya.

TRIBUNNEWS.COM - Mitos harta karun milik presiden pertama RI, Ir Soekarno ternyata masih diyakini kebenarannya oleh masyarakat. Kepercayaan inilah yang dimanfaatkan Hafid, warga Jl Kejawan Putih Tambak VIII/29, Surabaya untuk menipu.

Lelaki berusia 50 tahun itu mengaku sebagai dukun sakti yang bisa menarik emas murni 24 karat batangan bergambar proklamator kemerdekaan RI itu melalui media alam gaib. Korbannya beragam, dari pegawai swasta sampai karyawan BUMN di Surabaya.

"Kami menangkap Hafid saat menjalankan ritual di rumah korbannya di kawasan Margomulyo,” ungkap Wakapolrestabes Surabaya AKBP M Iqbal didampingi Kapolsek Asemrowo Kompol Dolly Primanto, Jumat (1/4/2011).

Dari tangan Hafid, polisi menyita lima batang besi berlapis kuningan bergambar Bung Karno, dua kendi, dan berbagai minyak mistik.

Terbongkarnya praktik perdukunan palsu ini berkat laporan Supriyanto (36), salah satu korban, ke polisi. Ia mengaku diberi emas palsu oleh Hafid. “Korban mendapati batangan yang semula dikira emas itu menghitam. Ternyata, itu hanya kuningan yang dipoles sedemikian rupa, sehingga mirip emas,” ungkap Iqbal.

Kepada Surya Hafid mempraktikkan jurus mautnya membujuk belasan korban. Bekas kuli bangunan itu mengaku ke sana kemari bisa menarik emas Soekarno. Agar tampil meyakinkan, Hafid selalu berdandan ala dukun dan selalu merapalkan mantra.

Kabar bahwa di Surabaya ada penarik harta itu pun sampai di telinga Suladi (32), warga Kambingan, Cerme, Gresik, Ngari (58) dan Waris (35), keduanya warga Jl Tambak Oso, Wilangon, Benowo, Surabaya.

“Saya meyakinkan mereka kalau bisa mengambil emas milik Pak Karno (Ir Soekarno) dengan bantuan alam gaib, dedemit dan perewangan saya. Awalnya, mereka saya mintai uang mahar Rp 5 juta-Rp 15 juta,” kata bapak tiga anak itu.

Begitu terima mahar, Hafid pun mengajak para korbannya bersemedi. Hafid selalu membawa kendi yang disebutnya akan menjadi tempat emas-emas itu bila sudah ditarik dari alam lain. “Mereka saya suruh duduk 10 meter dari saya agar tidak curiga,” katanya.

Satu korban digarap beberapa kali selama dua minggu dan setiap pertemuan harus ada mahar. Kepada mereka, Hafid menyakinkan bahwa perewangannya bukan sembarangan, sehingga butuh uang untuk membeli dupa dan minyak wangi terbaik.

Terpikat dengan iming-iming emas lantakan, korban pun percaya. Supriyanto, misalnya, tanpa ragu menyerahkan uang Rp 58 juta secara bertahap. Sementara itu, Suladi, Ngari, dan Waris masing-masing sudah merogoh kantong sebesar Rp 35 juta, Rp 5 juta, dan Rp 25 juta.

Lucunya, setiap kali melakukan ritual, Hafid selalu membaca kalimat-kalimat bahasa Arab yang dia sendiri tidak mengerti artinya. “Bagaimana bisa dimengerti, lha mantra itu semuanya saya awur. Yang penting, di telinga korban jampi-jampi itu terdengar seperti doa,” ujar Hafid lalu senyam-senyum.

Di akhir ritual, Hafid memasukkan batangan emas palsu seberat 1 kilogram ke kendi tanpa sepengetahuan korban. Kepada korban, Hafid bertutur agar kendi tersebut tidak dibuka sampai tiga bulan. Alasannya, emas palsu itu masih belum matang dan dalam penjagaan perewangannya.

Namun, karena ada korban tak sabar ingin melihat emas, kedok Hafid pun terbongkar. Baru sebulan, salah satu korban, Supriyanto, membuka kendi dan menemukan emas batangan yang sudah menghitam. Saat itulah korban yakin emas itu palsu, yaitu kuningan yang dipoles sampai mengkilap.

Soal emas palsu ini, punya pendapat yang mungkin membuat jengkel korbannya. “Kalau itu emas asli, ya mendingan saya ambil sendiri, Pak,” tutur Hafid yang selama setahun beraksi mengantongi Rp 110 juta.

Meski begitu, bukan berarti Hafid tak keluar modal sama sekali. Untuk membeli besi berlapis kuningan 1 kg ia harus merogoh Rp 400.000, sedangkan yang 500 gr, Rp 250.000.


Sedangkan uang hasil menipu itu ia gunakan untuk menutup utang dan menghidupi kekasih gelap yang sebenarnya lebih cocok menjadi anaknya karena masih berusia 19 tahun. ”Dia saya kasih Rp 15 juta karena mau saya nikahi,” tuturnya tentang kekasihnya yang masih mahasiswa itu.

Bagi sosiolog Universitas Airlangga Surabaya, Bagong Suyanto, mitos harta Soekarno itu masih dipercaya sebagian masyarakat, apalagi berbumbu klenik. “Ini mitos lama yang masih diyakini sampai saat ini,” tutur Bagong melalui ponselnya, semalam.

Harta karun yang diyakini masyarakat sebagai dana revolusi kemerdekaan Indonesia ini, bahkan diisukan tersimpan di Bank of Swiss. Namun, sampai hari ini tidak ada bukti akademis yang bisa membenarkan kabar itu.

Ada juga warga Jeneponto, Sulawesi Selatan, yang mengaku menemukan harta karun Soekarno, berupa emas batangan, mata uang lama dan sertifikat bank atas nama Soekarno. Pengakuan ini sempat bikin heboh, namun tidak ada kelanjutannya sampai kini.

Menurut Bagong, mendapatkan kekayaan secara cepat melalui cara irasional itu merupakan cermin rasa frustrasi sebagian masyarakat. Mereka yakin tidak mungkin mendapatkan harta dengan cara rasional.

“Sebenarnya, penipuan emas batangan harta karun Ir Soekarno sama halnya dengan penipuan lain seperti tawaran bunga bank selangit plus hadiah mobil. Hanya modusnya berbeda,” katanya.

Media di Indonesia belakangan ini memang gencar memberitakan kasus penipuan dengan korban dan kerugian yang tidak sedikit. Misalnya penipuan oleh si cantik Selly Yustiawati dan Nastiti penipu ratusan laptop milik temannya di Surabaya.

Meski para korban berpendidikan tinggi, mereka masih yakin bisa mendapat secara instan uang banyak yang tidak mungkin didapat secara wajar. Kemajuan teknologi informasi tak menjamin masyarakat tidak berpikir irasional. Ini dibuktikan maraknya penipuan semacam ini di kota-kota besar.

”Berpikir rasional, itu kunci agar tidak tertipu. Kita tak bisa membebankan masalah semacam ini pada polisi yang lebih bertindak kuratif, bergerak kalau ada kejadian,” katanya.

Editor: Gusti Sawabi
Sumber: Surya
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
101984 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
    Jadilah yang pertama memberikan komentar
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas