Minggu, 23 November 2014
Tribunnews.com

Koleksi Uang Kuno pun Masih Tertata Rapi

Senin, 13 Juni 2011 22:48 WIB

Laporan Wartawan Bangka Post, Iswidodo

TRIBUNNEWS.COM, TANJUNGPINANG -  Pakdhe Lasmin (74) memegang kuas dan kain lap halus membersihkan satu persatu diantara ribuan barang antik koleksi pribadi  di pondoknya "Sasana Langen Budaya Nusantara" Kampung Kolam RT 3 RW 7 no 18 Tanjungpinang, Kepulauan Riau

Belum lagi koleksi uang koin dan uang kertas dari berbagai macam negara dan kerajaan di nusantara. Koin kuningan, tembaga dan perak itu dia tempatkan dalam wadah khusus agar terjaga dengan awet.

Koin itu ada yang berat dan ringan, ukuran kecil dan besar dan terdapat angka tahun pembuatan, sejak era abat 16 hingga tahun 1900an masih ada. Tulisan dalam uang koin itu pun bermacam-macam, ada huruf arab, melayu, jawa kuna, china, dan sebagainya yang terukir pada sisi koin, serta terdapat gambar relief yang unik.

Demikian juga uang kertas, ada ratusan lembar berbeda beda ukuran dan satuan nilai dari berbagai negara dan kerajaan nusantara. Dari lembaran uang kertas kuno itu terdapat gambar raja, hewan, presiden, tumbuhan, simbol kenegaraan dan sebagainya. Semua itu terawat dengan apik dan awet.

"Uang itu ada sertifikatnya juga," ujar Pakdhe, Jumat (10/6/2011) di pondok barang kuno miliknya.

Lelaki dengan perawakan tinggi, kurus, dan hidung mancung itu kini hanya tinggal dengan istri kedua karena istri pertama sudah  meninggal sejak 1993.

Waktu nikah dengan istri pertama berhasil memiliki 20 anak dan hidup 10 anak hingga kini. Sedangkan dengan istri sambungan (kedua) tidak memiliki anak dan hidup harmonis hingga kini.

Pakdhe Lasmin tidak hanya hobi mengoleksi benda kuno maupun aksesoris jaman kerjaaan masih jaya di nusantara, tetapi juga memiliki jiwa seni tinggi.
Buktinya dia bisa membuat miniatur wayang kulit komplit dengan dalang, pengrawit dan gamelan yang tertata dalam satu kotak kaca, persis seperti maket gedung proyek.

"Miniatur wayang kulit itu dulu tahun 1969 saya bikin sendiri sebanyak 3 unit. Satu kotak dibeli orang Australia setara dengan Rp 1,5 juta pada tahun 1973 dan satunya lagi tahun 1975 dibeli bule dari Belanda. Sekarang tinggal satu kalau ada yang beli ya silakan hanya Rp 5 juta saja. Tapi jika disuruh bikin lagi atau ada pemesan masih bisa saya buatkan asal bahan aslinya ada yaitu kulit dan kuningan," kata Pakdhe menerangkan.

Ketika ditanya, koleksi apa yang paling disukai, Pakdhe justru menyebut Keris Kelok 41. Yaitu sebilah keris yang memiliki kelok sebanyak 41 lengkungan dari pangkal hingga ujung keris, terawat dengan apik. Keris asal kerajaan Majapahit itu merupakan satu diantara puluhan keris kuno yang berasal dari 42 kerajaan di Indonesia.

Menurutnya, keris itu pernah dibeli orang Jakarta tahun 1987 seharga Rp 200 juta tapi dengan syarat Pakdhe harus mengantarnya ke tempatnya. Karena ada feeling kurang yakin terhadap si calon pembeli maka Pakdhe pun membatalkannya.

Editor: Alfred Dama
Sumber: Bangka Pos

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas