• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 19 April 2014
Tribunnews.com

Jalur Mudik Lintas Sumatera:Truk Dilarang via Medan-Brastagi

Jumat, 26 Agustus 2011 03:39 WIB

TRIBUNNEWS.COM, MEDAN - Dinas Perhubungan Sumut melarang truk melintasi rute Medan-Brastagi selama musim mudik Lebaran, sejak 27 Agustus hingga 1 September.

''Ini untuk mengurangi kemacetan di jalur Medan-Brastagi, yang hingga saat ini belum ada alternatifnya,'' ujar Kasi Angkutan Pada Bidang Darat Dishub Sumut, Thomas Andrian, saat ditemui Tribun, Kamis (25/8/2011).

Ia mengatakan pelarangan ini dikenakan pada mobil barang bermuatan 7,5 ton, angkutan peti kemas, kereta gandengan dan tempelan. Ini sudah disosialisasikan sejak awal 1 Agustus. Sebelumnya, Dishub Sumut membatasi jam operasi truk  via jalur ini, hanya malam hari.

Thomas mengakui rute wisata seperti Medan-Brastasi dan Prapat merupakan titik rawan macet selama mudik Lebaran ini.
Untuk jalur Medan-Prapat, kemacetan kerap terjadi di kawasan Lubukpakam sampai Tebingtinggi saja. Apalagi saat ini sedang ada perbaikan jembatan di sekitar Serdangbedagai. Mengantisipasi kemacetan tersebut, pengendara dapat menggunakan jalur alternatif melalui Galang-Dolokmasihul- Tebingtinggi.

''Jarak tempuhnya memang lebih jauh, sekitar 20 kilometer lebih jauh dibanding jalur biasa. Selanjutnya, jalur Tebingtinggi- Siantar-Prapat cenderung lapang dan jalannya juga dalam kondisi baik,'' katanya.

Thomas mengakui Dishub Sumut masih fokus pada pembenahan rute jalan yang ada sekarang. Belum memikirkan rute alternatif seperti di Jawa.

''Kalau di Sumatera Utara, kemacetan memang kadang-kadang terjadi di beberapa titik, namun masih bisa diatasi oleh petugas yang sudah disiagakan di titik rawan macet. Terlebih jalur untuk mudik tergolong dalam keadaan baik dan tidak ada yang mengalami kerusakan parah,'' katanya.

Namun, Thomas mengaku tak menyepelekan hal tersebut. Ia dan petugas lain akan tetap bersiaga. Bahkan tim untuk mensurvei jalur alternatif jika terjadi keadaan darurat sudah disiagakan.

" Mereka nanti akan bertugas juga untuk melakukan pemilihan rute-rute alternatif apabila terjadi hal-hal yang bersifat darurat," katanya.

Titik rawan hampir setiap daerah akibat jalan dimanfaatkan jadi pasar tumpah, dan pungutan sumbangan. Berdasar data dari Dishub Sumut, jumlah pemudik yang menggunakan bus dan kendaraan pribadi saat Lebaran ini meningkat 5 persen dari 2010.

''Tahun ini diperkirakan 736.968 orang, naik lima persen dari  701.874 orang," ujar Thomas.

Pemudik yang menggunakan jasa kereta api juga naik lima persen. Pada Lebaran ini mencapai 195.690 orang dari
186.371 orang, pada periode sama tahun lalu. Sedangkan pengguna jasa kapal laut diprediksi 22.361 orang dari tahun lalu sebanyak 21.296.

Lonjakan terbesar terjadi pada penumpang pesawat. Lebaran ini diperkirakan naik menjadi 295.535 orang dari tahun lalu sebanyak 281.462 orang. Sopir bus antarkota dan provinsi mengamini perkataan Thomas. Taufik (44), supir bus tujuan Takengon-Meulabouh dan Banda Aceh, mengatakan jalur ini bagus dan tak rawan kemacetan. "Kemacetan hanya di daerah Medan-Brastagi, kalau sudah lewat itu, jalan sudah mulus, nggak ada masalah," ujarnya.

Pria yang sudah 10 tahun menyetir bus ini memperingatkan pengendara mobil tujuan Medan-Banda Aceh untuk hati-hati melintas di malam hari. Pasalnya, di kawasan Pangkalan Brandan dan Langsa ada sekumpulan anak muda yang sering melempari batu ke arah mobil yang sedang melaju.

"Pelempar batu sering, saya nggak tahu apa tujuannya, tapi kalau perampokan dan pencurian jarang terjadi," ujarnya.
Muzakir, supir bus tujuan Mandailing Natal mengatakan jalur Medan-Padangsidempuan ataupun Mandailing Natal juga tergolong mulus.

"Hanya di Aek Latong saja yang parah, selebihnya jalan cukup bagus. Kerusakan di jalur Aek Latong, ringan saja, tapi akan macet panjang, terlebih jika hujan turun.''

"Kalau dari Tarutung sampai Sibolga, jalan rusak ringan sekitar 40 kilometer, tapi dari Sibolga sampai Padangsidempuan jalan mulus dan tidak macet, perbedaan waktunya dari jalur via Aek Latong hanya sekitar dua sampai tiga jam," ujarnya.
Jhon Hasibuan, supir bus Medan-Rantauprapat memiliki pendapat yang tak jauh berbeda. Hampir setiap hari ia melintasi jalur Medan - Rantauprapat, tak ada satupun kemacetan parah yang terjadi selama di perjalanan.

"Jalannya mulus, yang penting kalau sudah lewat Tebingtinggi tidak ada kemacetan," jelasnya.

Editor: Hasiolan Eko P Gultom
Sumber: Tribun Medan
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
153834 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI KOMENTAR SAYA
Atas