• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 1 November 2014
Tribunnews.com

Pascaerupsi, Jalur Pendakian Merapi Kian Ekstrim

Sabtu, 5 November 2011 20:02 WIB
Pascaerupsi, Jalur Pendakian Merapi Kian Ekstrim
SURATNO UNTUK TRIBUN JOGJA
Dua petugas pengamat gunung api dari BPPTK Yogyakarta merayapi tebing utara puncak Merapi Kamis (27/10/2011) dalam rangka tugas pemantauan pascaerupsi 2010.

Laporan Wartawan Tribun Jogja, Sigit Widya Purnama dan Setya Krisna Sumargo

TRIBUNNEWS.COMa, YOGYAKARTA - Menapaki Gunung Merapi hingga ke puncak memerlukan stamina dan fisik prima. Gunung setinggi 2.930 meter di atas permukaan laut (mdpl) tersebut menawarkan medan ekstrim, terutama pascaerupsi 2010.

Rute pendakian dari starting point di New Selo banyak yang berubah, namun relatif mudah ditemukan. Aliran air jadi patokan jalan pendakian ke kawasan puncak. Jalur kadang mesti merayap di kemiringan mulai 30 hingga 60 derajat.

Jika mujur, pendakian akan menyenangkan ketika cuaca bagus. Tapi jika cuaca buruk, perjalanan maha berat mesti dilalui. Tantangan terberat jika cuaca buruk adalah kabut tebal dan terpaan angin sangat kuat.

Namun bagi Surat (40), atau biasa disapa Pak Lik, rute utara soal mudah. Ibaratnya, sambil merem saja, Surat bisa mendaki sampai puncak. Tak terhitung lagi ia turun naik gunung ini. Sejak umur 16 tahun, Surat sudah mendakinya.

Surat memang bukan sembarang orang. Warga Selo ini jadi orang pilihan BPPTK Yogyakarta dalam setiap penugasan ekstrem ke puncak Merapi. Reputasi Surat memang layak diacungi jempol. Ia pernah jadi juara lomba sprint rally kebut gunung Merapi pada tahun 2000.

Mau tahu seberapa cepat ia menorehkan rekor? Rute Selo-Pasar Bubrah pulang pergi dilalapnya hanya dalam tempo 1 jam 22 menit! "Setengah berlari sambil bawa beban pasir 15 kilogram," bisik Surat, lelaki pemalu yang sebulan lebih di Aceh jadi relawan bencana tsunami 2004.

Perawakan Surat tak istimewa betul. Malah kadang ia terkesan ringkih dengan tubuh kurusnya. Tonjolan otot hanya tampak di kedua lengannya. "Sejak usia 16 tahun, saya mulai menjadi porter. Setiap barang yang saya bawa, beratnya antara 15 hingga 20 kg," akunya.

Pascaerupsi 2010, Surat menjadi orang pertama yang menggapai bibir kawah puncak Merapi. Ia naik pada awal Januari 2011, saat status masih Siaga. "Suara gemuruh masih terdengar sangat keras dari kawah Merapi," katanya.  

Sebelumnya, ia juga naik ke Merapi pada awal Desember 2010, saat mengantarkan sesaji Labuhan berupa kepala kerbau ke pelataran Pasar Bubrah.

Meski tak mengenyam pendidikan tinggi, Surat jadi pribadi yang unik.
Ia secara otodidak memahami pekerjaan para pengamat dan pemantau gunung Merapi. Ketika Merapi masih bergejolak, Surat membantu memasang reflektor di dinding selatan puncak Merapi. Dinding yang dipasangi cermin itu nyaris tegak lurus.

Pengalaman pahit manis Surat banyak, sampai ia sulit mengingatnya. Namun yang paling berkesan ketika mendampingi sekelompok peneliti gunung dari Jerman. Tiga hari penuh ia naik turun gunung melayani kelompok itu.

"Pagi naik, sore turun. Pagi berikutnya naik lagi, sore turun lagi, sampai tiga hari. Bener-bener menguras tenaga," katanya.

Kegiatan peneliti terhenti setelah ada anggotanya yang jatuh di lereng hingga luka-luka.

Pengalaman berkesan lain, Surat dan teman-temannya di SAR Selo pernah menyelamatkan jiwa seorang pendaki di Merbabu. Pemuda asal Pemalang itu jatuh ke lereng, dan tiga hari sendirian menunggu pertolongan.

Surat memimpin pelacakan jejak, karena tim pendahulu gagal. Korban akhirnya ditemukan dengan kedua tangan patah, tergolek di tubir jurang. Evakuasi sangat sulit karena jalur sangat  berbahaya di tebing hampir vertikal. Korban digendong bergantian dari puncak hingga Selo.

Editor: Yulis Sulistyawan
Sumber: Tribun Jogja
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas