Sudah Satu Bulan Lebih Gelora Bung Tomo Retak

Sudah satu bulan lebih sejak ditemukannya sejumlah pilar dan bagian bangunan lainnya retak-retak,

Sudah Satu Bulan Lebih Gelora Bung Tomo Retak
NET
Gelora Bung Tomo.

TRIBUNNEWS.COM, SURABAYA - Sudah satu bulan lebih sejak ditemukannya sejumlah pilar dan bagian bangunan lainnya retak-retak, ternyata kondisi gedung Gelora Bung Tomo (GBT) di Jl Jawar Simpang Tiga Benowo, Kelurahan Pakal, Kecamatan Benowo itu belum banyak disentuh perbaikan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya.

Sejak Selasa (22/12) hingga Rabu (21/12), Surya menelusuri proyek prestisius yang menghabiskan dana APBD Rp 452 miliar itu. Surya kembali menelusuri keretakan yang terlihat di hampir seluruh sirip pilar struktur GBT.

Surya sempat ditolak pihak keamanan GBT. Mereka minta Surya mengantongi dulu izin dari Dinas Pemuda dan Olah Raga (Dispora) Surabaya sebagai pengelolanya.

Baru diperbolehkan masuk, setelah Surya menghubungi Kepala Dispora Surabaya, Sigit Sugiharsono. Itupun selama berjalan mengelilingi GBT, Surya dikawal pihak keamanan, dengan dalih takut dimarahi atasannya maupun pihak kontraktor PT Adhi Rekon jo.

Saat menelusuri GBT, Surya melihat ada beberapa perbaikan telah dilakukan kontraktor berupa menambal bagian-bagian retak yang terungkap sebulan lalu. Beberapa bagian yang ditambal di antaranya di sekitar sirip 1, 2, 3, 4, 22, dan 21. Terutama dinding bagian depan yang mudah terlihat orang. Namun, masih terlihat retakan sekitar 3 cm. Retakan itu memisahkan antara dinding bawah dengan atas.

Di sirip struktur 9 juga terlihat retakan menganga selebar telapak tangan. Ini merupakan retakan baru. Sedangkan amblesnya tanah hingga membuat tatanan paving tidak rata lagi, terlihat belum ada perbaikan.

Lambatnya penanganan bangunan prestisius itu membuat anggota Komisi C DPRD Surabaya, Agus Santoso geram. Ia menilai Pemkot dalam hal ini Dinas Cipta Karya (DCKTR) tidak serius menangani. Menurutnya, DCKTR sering hanya memaparkan kinerja yang baik-baik saja, tapi kekurangan dari bangunan itu tidak pernah dicarikan solusi. ”Harusnya bangunan ini menjadi perhatian khusus karena sudah menghabiskan dana ratusan miliar,” ujar Agus, Rabu (21/12).

Sebelumnya, ketika dikonfirmasi usai sidang paripurna, Selasa (22/12), Kepala DCKTR Sri Mulyono mengaku belum mendapat kabar dari tim ITS yang ditunjuk wali kota untuk mengkaji keretakan dan penurunan tanah di GBT. ”Kami masih menunggu tim ITS,” kata Sri Mulyono.

Sedangkan Ketua Tim ITS pengkaji GBT, Mudji Irmawan mengatakan tim ITS baru akan melakukan studi dan mengkaji struktur/pilar bangunan dan timbunan tanah di GBT dengan metode forensik engineering. Mudji mengakui surat dari wali kota sudah turun beberapa pekan lalu, namun tim ITS belum turun.

Dengan metode itu, tim akan mengambil contoh pilar yang retak. Setelah itu, tim mengevaluasi sehingga tahu permasalahannya. “Besok (hari ini) kami akan turun ke lapangan,” katanya, Rabu (21/12), ketika ditanya mengapa sudah sebulan lebih tim ITS belum juga turun ke GBT.

Menurutnya, kalau dalam kajian nanti benar terjadi penurunan, maka pengkajiannya akan dikategorikan berdasarkan tingkat penurunan tanah yakni besar, sedang, dan kecil. “Kalau struktur mengalami penurunan besar, maka (bangunan) harus dibongkar semua,” tutur pakar material beton ITS ini.

Pakar Struktur Bangunan yang juga Guru Besar ITS, Prof Priyo Suprobo membenarkan adanya permintaan resmi dari Pemkot agar tim ITS turun untuk memeriksa GBT. "Tapi hingga kini tim belum turun," katanya, Rabu (21/12).

Sementara itu, Totok Lusida, Perwakilan PT Adhi Rekon selaku kontraktor GBT, tidak berhasil dihubungi. Dua nomor ponselnya ketika dihubungi hingga Rabu (21/12) malam tidak aktif. (iks/uji/dio)

Editor: inject by pe77ow
Sumber: Surya
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved